Translator: Casper
Proofreader: Casper [.com]
Chapter 60 – Mereka Yang Jatuh Memiliki Sayap
*’Tepat sebelum melompat dari puncak gunung, perkiraan ketinggian Gunung Seonjung sekitar 1.700–2.000 meter.’*
Perhitungan ini dibuat berdasarkan kemiringan Gunung Seonjung dan jarak yang telah ia tempuh saat mengejar para penyintas.
Jalur gunung tidak pernah lurus, jadi sulit menentukannya hanya dengan intuisi. Namun, jika ditarik garis lurus antara titik awal dan titik akhir, perkiraan kasar masih bisa dibuat. Karena jalurnya bercampur antara tanjakan curam dan lintasan yang lebih landai, margin kesalahannya cukup besar. Meski begitu, dengan memakai nilai maksimum 2.000 sebagai patokan, risiko keseluruhan pada akhirnya bisa ditekan seminimal mungkin.
Sebenarnya, perhitungan Dong Bong-Su sudah dimulai sejak Shifting Shadow dan Water Shadow menyerbu dari belakangnya serta unit pengejar. Saat itulah ia menyusun rute pelarian baru—melompat dari puncak gunung.
Sejak membuat keputusan itu, ia terus memasukkan batu, kerikil, dan potongan tubuh mayat yang tercabik ke dalam Inventaris, meraih apa pun di sekitarnya yang bisa diambil tanpa menarik perhatian.
Ini adalah sesuatu yang mustahil dilakukan jika tubuhnya tubuh orang biasa. Semuanya hanya mungkin karena kekuatan, stamina, dan refleksnya jauh melampaui manusia normal, dan karena ia memiliki Teknik Inventory Divine Art.
Di atas segalanya, yang membuatnya yakin metode ini akan berhasil adalah kenyataan bahwa ingatan dari era modern masih tersisa.
Teorema Pythagoras, Hukum Gravitasi Newton dan Aksi-Reaksi (Hukum Newton III), Persamaan Gerak.
Hanya dengan perhitungan dasar matematika dan fisika, Dong Bong-Su mampu melompat dari tebing dengan keyakinan bahwa ia akan selamat.
*’Dilihat dari pengalaman sejauh ini, mungkin ada hukum fisika ala Murim yang menyimpang… tapi hukum fisika dasarnya tidak jauh berbeda di sini. Percepatan gravitasi memang sedikit berubah tergantung ketinggian, tapi selisihnya sangat kecil—tak perlu diperhitungkan. Anggap saja tetap sekitar 9,8 m/s². Aku pakai angka 10. Kalau hampir tidak ada hambatan udara, kecepatanku tepat sebelum membentur tanah bisa mencapai 720 km/jam. Lebih cepat dari setengah kecepatan suara. Tentu saja ada kecepatan terminal, jadi aku tidak akan terus dipercepat sampai titik itu… tapi sekuat apa pun tubuhku setelah naik Level, tidak mungkin bisa menahan benturan sebesar itu. Paling banter, kecepatan jatuh yang masih bisa ditahan tubuhku sekitar 50–60 km/jam. Kalau masih mungkin selamat meski menerima luka berat… maka sampai 100 km/jam, dengan tubuhku yang sekarang, mungkin masih bisa kutahan. Mungkin bahkan sedikit lebih.’*
Di dalam kepala Dong Bong-Su, perhitungan dan asumsi yang sebelumnya telah ia buat diputar ulang sekali lagi. Sehebat apa pun dirinya, ia tetap sedang melakukan banyak hal sekaligus, jadi asumsi dan perhitungan itu mau tak mau harus disederhanakan sebanyak mungkin.
*’Namun, untuk turun sambil mengurangi kecepatan sampai sejauh itu, satu mayat habis setiap detik. Kalau jatuh bebas tanpa hambatan udara, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai tanah sekitar 20 detik. Tapi kalau turun sambil memperlambat diri seperti yang sudah kuhitung, waktu itu akan bertambah drastis—perkiraan paling cepat 1 menit, paling lama sekitar 2 menit. Jadi jumlah mayat dan benda yang dibutuhkan adalah… karena berat benda-benda di Inventaris tidak seragam… setidaknya 60, paling banyak sekitar 120… mungkin bahkan lebih. Kalau hambatan udara diperhitungkan, jumlahnya bisa lebih sedikit dari itu.’*
Seratus dua puluh benda yang memiliki inersia cukup untuk menahan berat tubuhnya.
Dong Bong-Su tidak memiliki mayat atau benda sebanyak itu di dalam Inventaris. Memang ada batu kecil, ranting, dan potongan tubuh yang tadi ia masukkan, tetapi benda-benda itu nyaris tak akan membantu memperlambat jatuhnya.
*’Tapi.’*
Dong Bong-Su masih memiliki kartu as.
Yaitu memanfaatkan permukaan tebing yang miring.
Duk, duk, duk………
Saat Dong Bong-Su terus jatuh ke bawah sambil perlahan mengurangi kecepatannya, tempat yang ia tunggu akhirnya terlihat.
Baca & Support kami di:
www..com
dan join komunitas discord kami di:
www./
“Itu dia.”
Dong Bong-Su menendang batu yang ia keluarkan dari Inventaris ke arah tebing. Lalu ia langsung menempel pada dinding tebing. Karena kecepatan jatuhnya sudah nyaris habis, ia bisa mencengkeramnya dengan relatif mudah. Ini memungkinkan karena ada celah-celah di antara permukaan batu tempat tangan dan kakinya bisa diselipkan. Yang lebih penting, kemiringan tebing itu sedikit menurun ke bawah—dan itu sangat menentukan.
Dong Bong-Su perlahan turun di dinding tebing seperti sedang memanjat batu. Lalu, ketika kemiringannya kembali menanjak dan pijakan menjadi sulit, ia sekali lagi menggantungkan tubuhnya di udara dan menjatuhkan diri ke bawah. Saat ia menemukan ruang untuk kembali menapak di batu, ia mengeluarkan benda dari Inventaris, memberinya dorongan ke arah berlawanan, lalu kembali ke tebing.
Dong Bong-Su mengulangi proses ini.
Saat permukaan tebing miring ke atas, ia menghantamkan benda dan mayat untuk mengurangi kecepatan melalui gaya reaksi yang timbul. Saat menemukan bagian yang kemiringannya sedikit menurun seperti perosotan, ia menempel pada tebing dan turun di sana.
Itulah strategi Dong Bong-Su, dan sejauh ini berhasil. Dengan cara ini, ia bisa turun sambil meminimalkan konsumsi mayat dan benda. Andai ia memiliki kemampuan untuk langsung mengambil kembali benda setelah menghantamkannya dengan tangan atau kaki, semuanya akan jauh lebih mudah, tetapi kemampuan itu tidak ia miliki. Begitu sebuah benda dipukul, jarak antara dirinya dan benda itu langsung bertambah, sehingga benda yang sudah dipakai tak mungkin dimasukkan kembali ke Inventaris. Jika itu memungkinkan, ia bahkan bisa melakukan Teknik Void Steps, tetapi sejak awal itu mustahil.
Yang membuatnya yakin pada strategi ini adalah apa yang ia lihat saat menatap ke bawah dari puncak Gunung Seonjung. Yang menarik perhatiannya adalah fakta bahwa setelah hamparan panjang kekar kolom yang terbentuk dari basal, muncul lapisan tempat granit dan basal bercampur.
Tebing lurus yang menjulang dan terpotong tegak itu, pada suatu titik, berubah menjadi struktur tebing patahan yang tersusun dari lapisan-lapisan horizontal. Melihat gunung ini begitu tinggi, tampaknya banyak lapisan terbentuk terpisah dalam era yang berbeda. Karena itulah, Dong Bong-Su bisa melompat dari tebing tanpa ragu.
Ia belum pernah melakukannya sebelumnya, tetapi ia yakin bisa.
Dan ia melakukannya. Ia sedang melakukannya.
Kadang-kadang ia bahkan meluncur turun di tebing. Sesekali, di antara kekar kolom itu ada batu-batu yang terasah sangat licin, dan kemiringannya sangat pas untuk dipakai meluncur.
Dada-dada-.
Alas luncur yang ia gunakan adalah mayat. Karena gesekan, kulit mayat itu terkupas, darah terciprat, dan tulangnya tergerus. Namun, semakin itu terjadi, semakin jauh Dong Bong-Su bisa turun.
Saat percepatan menjadi berlebihan dan mayat itu benar-benar hancur tergilas, atau ketika rasanya sudah tak mungkin bertahan lagi, Dong Bong-Su menendang dinding tebing, menggantungkan tubuhnya di udara, lalu kembali ke tebing. Tentu saja, mayat yang sudah seperti kain compang-camping itu dipakai untuk kembali ke tebing. Setelah kembali menempel pada tebing, ia membentangkan mayat baru sebagai alas luncur dan kembali meluncur turun.
Itu metode yang sangat berbahaya dan sulit, tetapi Dong Bong-Su melaksanakannya dengan tenang. Dengan cara ini, ia perlahan memperlebar jarak antara dirinya dan langit, serta semakin mendekati tanah.
Pabababak-.
Satu mayat lagi tercabik di dinding tebing. Dan dengan itu, peluang hidup Dong Bong-Su kembali meningkat.
Itu terjadi saat Dong Bong-Su hampir mencapai tanah.
“Kuaaaagh-!”
Jeritan seseorang yang jatuh dari tebing di bawah sampai ke telinga Dong Bong-Su.
*’Akhirnya datang juga.’*
Begitu mendengar suara itu, Dong Bong-Su sudah melompat ke arah tersebut. Di tangannya ada pedang novice, dan seperti biasa, pedang itu membelah udara dengan kesederhanaan yang mengerikan.
Sret-.
Orang yang jatuh itu mungkin sempat berpikir begini. Bahwa mungkin, hanya mungkin, jika ia melompat dari tebing, sebuah pertemuan keberuntungan akan menantinya di bawah. Tanpa secercah harapan kecil itu, mereka tak akan pernah melompat sejak awal. Namun, yang menanti mereka adalah bilah dingin milik Dong Bong-Su.
Dengan kepala dan tubuh terpisah di udara, mereka kembali memulai perjalanan menuju tanah. Sementara itu, Dong Bong-Su, yang telah membelah mereka menjadi dua, memanggil sebuah batu, menendangnya, lalu kembali ke tebing. Setelah itu ia bergumam pelan.
“87.”
[Quest Promosi Kelas Pertama: Vagabond)]
Kelas Eksklusif Tester.
Syarat Penyelesaian Quest: Raih 100 kill terhadap musuh dengan L1: 10 atau lebih tinggi.
Progress Quest Saat Ini (Selesai/Dibutuhkan): 87/100
Hanya tersisa 13 orang lagi sampai Promosi Kelas.
Pabababak………..
Dong Bong-Su mulai turun lagi menyusuri tebing, menunggu pengorbanan berikutnya.
***
Beberapa saat sebelumnya, di puncak Gunung Seonjung.
Whooosh-.
Shifting Shadow berdiri di tepi tebing tempat Dong Bong-Su dan para bandit tadi berada, menatap ke bawah. Tentu saja, tak ada yang bisa terlihat. Yang menyambut pandangannya hanyalah awan putih yang menggantung di lereng gunung.
“Kenapa dia melakukan itu…?”
Pertanyaan kosong itu, tanpa seorang pun yang menjawab, tersapu arus angin naik dan buyar di puncak Gunung Seonjung.
Shifting Shadow perlahan memutar tubuhnya dan menyapu pandangannya ke arah Tang Wu serta anak buahnya, yang berkumpul di tebing seberang. Lalu tatapannya bertemu dengan mata Tang Wu.
“Sayang sekali, tapi kurasa aku harus puas hanya dengan kalian.”
Shifting Shadow berkata dengan tenang. Lalu, tanpa ragu sedikit pun, ia menerjang ke arah sana.
Itulah sinyalnya. Water Shadow, para bandit, dan anggota Kastil Heavenly Demon sekaligus menyerang Tang Wu dan para penyintas yang tersisa, dan
Pengorbanan ke-87 untuk Quest Promosi Kelas menjadi orang pertama di antara mereka yang melompat dari tebing.
Dan kemudian.
Tak lama lagi, akan ada lebih banyak lagi yang melompat ke bawah, menggantungkan harapan mereka pada peluang hidup yang setipis benang.
***
Aturan New Murim Online No. 8: Dalam kasus beberapa orang membunuh satu orang, jumlah EXP yang diperoleh Dong Bong-Su sebanding dengan kerusakan yang ia timbulkan pada orang yang mati. (Masih perlu penelitian lebih lanjut mengenai efisiensi serangan pertama dan serangan penutup.)
——————————————————–
Discord (Klik untuk Join Komunitas)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!