Login Diperlukan

Wajib Login!

Login dulu buat baca novel ini

Login

Chapter 59

Translator: Casper

Proofreader: Casper [.com]

Chapter 59 – Tebing

“Hahahahaha!”

Seolah-olah mereka memang sudah menunggu saat ini.

Akhirnya, Water Shadow dan Shifting Shadow tiba di sana bersama gelak tawa yang keras.

Berlawanan dengan yang seharusnya terjadi setelah pertarungan sengit, penampilan Shifting Shadow tetap rapi tanpa cela, dan sosok itu tak lain adalah Silver Naked Color Demon Pa Gahyeol—Ash Shadow.

Dia tertawa makin keras lalu mengejek Tang Wu.

“Hahaha. Pendekar Pedang Agung dari Klan Tang. Kukira kau akan kabur terbirit-birit, tapi ternyata cuma sampai sini batasmu?”

“Siapa kau, bajingan?”

Tang Wu tidak tahu bahwa dia adalah Do Heo-ok.

Bahkan para pengikut Kastil Heavenly Demon pun gagal menyadari bahwa dia bukan Pa Gahyeol, jadi mustahil bagi Tang Wu seorang diri untuk menembus penyamarannya.

Shifting Shadow tertawa sekali lagi lalu berkata,

“Kau toh sebentar lagi akan menghadap Raja Neraka, jadi kenapa hal seperti itu perlu dipedulikan? Hahahaha.”

“Keparat!”

Tang Wu murka oleh ejekan Shifting Shadow, tetapi dia tidak gegabah bergerak.

Seberapa pun meledaknya temperamennya, dia paham jelas situasi yang sedang mereka hadapi.

Melihat itu, Shifting Shadow menyeringai tipis dan kembali berteriak lantang.

“Keluar! Cepat keluar dan tunjukkan wajah tikusmu itu! Mari kulihat sehebat apa tikus sepertimu!”

Kini, tatapan Shifting Shadow tak lagi tertuju pada Tang Wu dan para penyintas lain.

Sebaliknya, tatapannya diarahkan pada para bandit yang menguasai salah satu sudut tebing di seberang.

Barulah saat itu Dong Bong-Su menyadari kenapa mereka sampai melakukan tindakan segila itu—membantai sekutu mereka sendiri.

*’Mereka sedang mencariku.’*

Tentu saja.

Bahkan Klan Namgung sempat kacau oleh cahaya saat naik Level, jadi bagaimana mungkin orang-orang ini berbeda?

Mereka pasti juga memperhatikannya, dan karena tidak bisa mengidentifikasinya meski sudah beberapa kali mengepung, mereka akhirnya memakai cara terakhir ini.

Ujung mata Dong Bong-Su sedikit melengkung.

Ini lucu.

Sejak datang ke sini, memang sudah ada beberapa momen menarik, tetapi tak ada yang semenghibur yang satu ini.

Krisis yang nyaris setipis sehelai rambut, datang bertubi-tubi.

Bahaya yang berlapis-lapis—itu saja sudah tanpa henti membangkitkan minat Dong Bong-Su.

Baca & Support kami di: 

www..com

dan join komunitas discord kami di: 

www./

Belum lagi, taktik yang sangat “manusiawi” seperti menikam dari belakang.

Memang, New Murim Online ini jelas merupakan game yang dibuat khusus untuknya.

Tanpa menarik perhatian siapa pun, Dong Bong-Su mencabut Pedang Novice’s Sword dan menggenggamnya erat.

“Tidak mau keluar? Kalau begitu, akan kuhancurkan sendiri kepalamu yang congkak itu dan kulihat dengan mataku sendiri.”

Ketika tak ada respons dari pihak bandit, Shifting Shadow melangkah maju.

Dong Bong-Su sudah mengetahui bahwa dia adalah Do Heo-ok.

Sama seperti saat dia pernah berubah menjadi Do Heo-ok sebelumnya, ada kesalahan yang bukan sepenuhnya kesalahan, dan hanya terlihat oleh Dong Bong-Su seorang.

Do Heo-ok masih belum menyadari bahwa terkadang terlalu sempurna justru berarti tidak sempurna sama sekali.

Dan.

Bahwa puncak gunung ini juga bukan tepi tebing yang tertutup sempurna.

Ssshk.

Saat Shifting Shadow melangkah satu langkah lagi ke arah para bandit.

Pedang Dong Bong-Su bergerak tanpa suara.

Pada saat yang sama, para bandit yang berjaga menghadapi Shifting Shadow di depannya kehilangan kepala mereka sekaligus.

Karena Dong Bong-Su berdiri paling dekat dengan tebing, semua bandit membelakanginya.

Tak ada sedikit pun cara bagi mereka untuk menghentikannya.

Puberberbeok.

Lebih dari sepuluh kepala yang terpenggal jatuh ke puncak Gunung Seonjung.

Pada saat itulah!

Flash—!

Sekali lagi, cahaya suci yang dulu menyapu Klan Namgung menutupi puncak Gunung Seonjung.

Terkejut oleh kilatan yang mendadak itu, Shifting Shadow menghentikan langkahnya dan buru-buru mundur.

Ada kemungkinan cahaya itu mengandung tenaga internal yang dahsyat seperti milik Teknik Sun Divine Art.

Dia bahkan segera mengerahkan energi pelindungnya, tetapi semua usaha itu sia-sia.

Kilatan itu lewat dengan lembut, seperti sinar matahari musim semi yang hangat.

Dia mungkin mengira itu ledakan energi, padahal sebenarnya itu tak lebih dari cahaya yang dipancarkan saat Dong Bong-Su naik Level.

Meski begitu, cahayanya cukup kuat untuk membuat mata sulit terbuka, jadi Shifting Shadow tetap waspada dan menatap tajam ke sumber cahaya itu.

Saat cahaya itu meledak, Tang Wu juga menegang dan berdiri di depan Tang Hwa untuk melindunginya.

Di matanya juga, pancaran cahaya kenaikan Level itu tampak jauh dari biasa.

Namun setelah menyadari bahwa tidak ada tenaga internal yang terkandung di dalam cahaya itu, dia hanya menatap ke arah tersebut dalam diam.

Dengan seluruh inderanya ditingkatkan sampai batas maksimal, dia dengan hati-hati menurunkan Namgung Hye—yang tadi terselip di bawah lengannya—ke belakang tubuhnya.

Satu langkah keliru saja bisa membuatnya jatuh dari tebing, tetapi dia menilai meletakkannya seaman mungkin lebih baik daripada terus menggendongnya.

Sementara itu, Water Shadow terkejut oleh kejadian tak terduga itu dan mundur kembali ke jalur yang tadi dilaluinya saat naik.

Cahaya yang dipancarkan Dong Bong-Su memang sedadak dan semengejutkan itu.

Meski begitu, hanya ketiga orang inilah yang bereaksi dengan tepat terhadap situasi tersebut.

Sisanya sama sekali tak tahu apa yang sedang terjadi di arena itu atau apa yang seharusnya mereka lakukan.

Semua bandit yang tersisa, para pengikut Kastil Heavenly Demon, dan para penyintas hanya tahu bahwa satu bandit tiba-tiba memenggal kepala bandit lain, lalu cahaya yang sangat kuat entah kenapa meledak dari tubuhnya.

Hanya itu yang mereka saksikan dengan mata kepala sendiri.

Hwirurururu—.

Keheningan yang tak tepat waktu turun di puncak Gunung Seonjung yang kacau itu.

Sebagai gantinya, hanya suara angin kencang di puncak yang ringan menghantam telinga semua orang.

Meski mulut mereka tertutup, semua tatapan terarah pada satu titik, seolah-olah sudah bersepakat sebelumnya.

Sumber cahaya kilatan itu—Dong Bong-Su.

Sisa cahaya masih menyebar dari tempat dia tadi berdiri, tetapi tak cukup untuk sepenuhnya menghalangi pandangan.

Lagipula, karena ini siang hari, sinar matahari perlahan menelan cahaya kilat itu.

Sesaat kemudian.

Akhirnya, bahkan sisa cahaya itu pun lenyap sepenuhnya.

Tapi.

Yang menghilang bukan hanya cahaya.

“Dia… lenyap.”

Seseorang bergumam.

Kata-kata itu mengisi celah dalam keheningan dan menembus telinga orang-orang menggantikan suara angin.

Semua yang mendengarnya setuju, dan mereka memang tak punya pilihan selain setuju.

Dong Bong-Su, bersama para bandit yang telah dia bunuh, menghilang bersamaan dengan cahaya itu.

Yang tersisa hanya tepian tebing yang kosong, memenuhi pandangan mereka sepenuhnya.

Tak ada apa-apa lagi di sana.

Seolah memang sejak awal begitu—kosong melompong.

Namun di antara mereka, Shifting Shadow, Water Shadow, dan Tang Wu samar-samar sempat melihat bagaimana Dong Bong-Su menghilang.

Meski cahayanya sangat menyilaukan, mereka sempat melihat bayangan samar bergerak cepat di dalamnya.

Bayangan yang mereka lihat jelas melompat turun dari tebing.

Akan tetapi, yang aneh adalah bahkan mayat para bandit lain juga lenyap tanpa jejak.

Sama seperti gumaman tadi, mereka begitu saja… begitu saja menghilang.

Untuk sesaat, ketiganya memiliki pemikiran berbeda, tetapi pada akhirnya mereka sampai pada kesimpulan yang sama.

Mereka percaya mayat para bandit itu telah sepenuhnya menguap oleh teknik berbasis energi yang yang sangat kuat, sampai tak menyisakan jejak apa pun.

Walaupun dari tempat mereka berdiri kilatan itu terasa lembut, di dekat sumbernya pasti sepanas lava gunung berapi—atau mungkin seperti berdiri di samping matahari yang tergantung di langit.

Tak ada cara lain untuk memikirkannya.

Konsep game memang sama sekali tidak ada dalam akal sehat mereka.

Meski begitu, masih tersisa satu pertanyaan besar.

Kenapa pria itu melompat turun dari tebing?

Dengan kultivasi sehebat itu, kenapa dia bahkan tidak mencoba bertarung dan malah menyerah semudah itu?

Pertanyaan itu muncul bersamaan di benak mereka bertiga.

Shifting Shadow merasa menyesal karenanya, Tang Wu merasa hampa karenanya, dan Water Shadow merasa lega karenanya.

Emosi mereka berbeda, tetapi tak satu pun dari mereka meragukan kematian Dong Bong-Su.

Tak ada ahli yang bisa selamat setelah jatuh dari tebing sedalam seribu zhang.

Saat tubuh menghantam dasar jurang itu, kematian tak terelakkan.

Memang seharusnya begitu.

Itu pun bagian dari akal sehat mereka.

Meski tidak mengucapkannya, sekali lagi mereka mendapati diri mereka sependapat.

Namun, di dunia ini selalu ada pengecualian, dan ada keberadaan yang menghancurkan akal sehat.

Bukankah justru itulah yang membuat dunia menarik dan layak dijalani?

***

Puk, puk, puk….

Hembusan angin naik yang kuat di sepanjang tebing membuat ujung jubahnya berkibar, dan angin gunung yang dingin menyapu wajahnya.

Dong Bong-Su jelas sedang jatuh.

Tetapi dia jatuh dengan cara yang sama sekali berbeda dari perkiraan Shifting Shadow dan yang lainnya.

Dia memang sedang turun menuju tanah, tetapi tidak dengan kecepatan yang menunjukkan bahwa tubuhnya sepenuhnya tunduk pada percepatan gravitasi.

Alasannya adalah.

Puk, puk, puk….

Suara ini, yang bergema berkala di udara.

Puk.

Tanpa gagal, Dong Bong-Su menghantamkan satu tangan dan kedua kakinya ke bawah secara bersamaan.

Tepat pada saat itu, sebuah mayat muncul dari tangan satunya yang tadinya tak melakukan apa-apa.

Tentu saja, itu berkat Teknik Inventory Divine Art.

Dengan suara tumpul, mayat itu hancur total.

Kwagwang—!

Bersamaan dengan ledakan itu, mayat tersebut secara alami terjatuh ke bawah dengan kecepatan lebih besar, dan laju percepatan Dong Bong-Su berkurang sebesar benturan yang diserap mayat itu.

Itu adalah hukum fisika sederhana yang bisa dihitung dari massa dan kecepatan.

Prinsip aksi-reaksi dan kekekalan momentum diterapkan dengan akurat bahkan di udara tebing ini.

Puk, puberberbeok, kwang………

Berbagai benturan tumpul bergema teratur di sepanjang dinding tebing.

Itu karena Dong Bong-Su terus mengulangi tindakan yang sama pada interval tetap.

Kalau intervalnya terlalu panjang, tubuhnya akan terakselerasi berlebihan sehingga sulit mengendalikan anggota tubuhnya.

Kalau terlalu sering dilakukan, mayat dan item di Inventaris miliknya bisa habis sebelum dia mencapai dasar.

Dong Bong-Su bergerak dengan hati-hati, tepat sesuai “perhitungan” yang tadi sudah dibuatnya.

Bahkan di udara sekalipun, ketenangannya tak goyah.

*’Aku sudah turun lima ratus meter sekarang. Jarak yang tersisa sekitar seribu dua ratus sampai seribu lima ratus meter.’*

Puk, puberberbeok, kwang……….

——————————————————–

Discord (Klik untuk Join Komunitas)

Diskusi Bab (0)

Silakan Login untuk berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Pengaturan Baca

Tema Warna
Jenis Font
Poppins
Serif
Roboto
Mono
Arial
Tahoma
Ukuran Font 1.1rem
Jarak Baris 1.8
Spasi Paragraf 1.2em
Jarak Huruf 0px
Lebar Halaman Normal
Posisi Teks

Semua Bab