Translator: Casper
Proofreader: Casper [.com]
Chapter 61 – Awal Dan Akhir
***
Swoosh-.
Pedang Dong Bong-Su sekali lagi melesat ke langit. Suara pedang itu membelah angin terdengar nyaring.
Thud-.
Namun hasilnya sama sekali tidak ringan. Pedang Novice’s Sword itu menancap lurus ke ubun-ubun penyembah terakhir yang masih hidup. Sudah pingsan karena teror jatuh, orang itu pun dengan bersih berubah menjadi Poin EXP.
Hwaak-.
Naik Level lagi.
Cahaya cemerlang menyebar dari tubuh Dong Bong-Su, dan ruang gelap serta lembap di bawah tebing pun sejenak diterangi.
Dong Bong-Su diam mengamati cahaya itu menyebar. Seperti yang diduganya, cahaya itu tidak menjangkau sejauh saat malam hari. Cahaya itu merambat di sepanjang dinding tebing, tetapi begitu mencapai tempat yang terkena sinar matahari, ia langsung melebur ke dalamnya. Jejak pendar samar masih tertinggal, tetapi mustahil membayangkan cahaya itu akan menembus awan di pertengahan gunung dan mencapai puncak tebing.
Tuk. Swoosh-.
Dong Bong-Su mencabut pedangnya dari tubuh mayat itu. Meski begitu, tatapannya tak pernah lepas dari puncak tebing.
*’Masih ada beberapa lagi.’*
Mangsa.
Dan mangsa bagus yang akan berubah menjadi Poin EXP. Mereka masih ada di sana. Kesempatan yang susah payah didapat. Akan merepotkan kalau sampai terlewat hanya karena lengah sesaat, bukan?
Terlebih lagi, Tang Wu masih belum melompat. Dong Bong-Su sedang menunggunya.
Tidak, bukan.
*’Lebih tepatnya, aku menantikannya.’*
Binatang buas yang terluka dan terpojok di tepi pasti akan melompat dari tebing demi menyelamatkan anaknya. Walau terluka, membunuhnya pasti akan memberinya ‘Peningkatan Kekuatan’ yang luar biasa.
Thud, thud, thud……….
Sambil menunggunya, pedang Dong Bong-Su terus membelah udara. Para penyembah yang telah dipercepat hingga ke kecepatan terminal sama sekali tak mungkin menghindari Pedang Novice’s Sword yang dilemparkannya. Tekanan angin yang begitu kuat bahkan membuat mereka sulit membuka mata, dan kebanyakan dari mereka sudah lebih dulu kehilangan kesadaran.
Kecepatan terminal menuju dasar.
Baca & Support kami di:
www..com
dan join komunitas discord kami di:
www./
Kecepatan pedang yang dilempar ke atas oleh Dong Bong-Su.
Vektor kecepatan relatif saat Pedang Novice’s Sword itu benar-benar mencapai kepala mereka sangat mengerikan, dan daya hantamnya tak terlukiskan.
Thud-.
Sekali lagi, bersama bunyi nyaring, sebuah tubuh jatuh ke tanah dengan pedang menembusnya.
Ironisnya, justru karena pedang Dong Bong-Su menembus tubuh mereka, jasad mereka setidaknya bisa tetap utuh. Kalau mereka jatuh langsung begitu saja, tubuh mereka pasti sudah hancur berkeping-keping. Meski begitu, apakah mereka bisa tetap utuh sampai akhir masih belum pasti. Bagaimanapun, Dong Bong-Su masih punya rencana lain.
“98.”
Dong Bong-Su bergumam pelan sambil menghitung angka berikutnya.
Sekarang tinggal dua orang.
Promosi Kelas yang pertama tepat ada di hadapannya.
Namun meski waktu yang cukup lama berlalu, tak ada lagi EXP gratis yang jatuh dari atas. Meski begitu, Dong Bong-Su tetap bertahan di tempatnya.
*’Belum, belum.’*
Dalam gumaman tenang itu terkandung keyakinannya pada Tang Wu. Bukan mempercayai Tang Wu sebagai pribadi, melainkan mempercayai kekuatan dan ketegasannya.
Kalau orang itu…………
*’Dia tak mungkin ditangani semudah itu oleh Do Heo-ok.’*
Dan dia juga tak mungkin membiarkan Tang Hwa dan Namgung Hye ditangkap begitu saja oleh Do Heo-ok.
Kalau begitu, langkah terakhir yang bisa diambilnya tetap cuma satu. Sama seperti yang selama ini dia lakukan, sama seperti yang dilakukan orang-orang lain.
Dong Bong-Su terus menunggu.
Setelah waktu yang panjang.
Keyakinan itu akhirnya terbayar.
Parararak-.
Entah sejak kapan, terdengar suara samar membelah udara, dan pada saat yang sama sesuatu yang jatuh dengan cepat tertangkap oleh matanya. Warnanya cokelat, dan suara yang ditimbulkannya saat membelah angin seperti ujung jubah panjang yang berkibar liar.
Seorang pria paruh baya dengan jubah panjang cokelat. Bahkan tanpa memastikan pun, sudah jelas siapa dia.
Pertemuan singkat namun intens. Itu adalah Tang Wu.
Chang-!
Dong Bong-Su kembali menarik pedangnya dan memasang kuda-kuda. Dalam sekejap itu, Tang Wu sudah turun puluhan meter lagi. Postur jatuhnya sama seperti para penyintas sebelumnya: kepala mengarah ke tanah, kaki ke langit.
Namun ada beberapa perbedaan. Tang Wu tidak jatuh sendirian, melainkan memeluk seseorang. Tapi berbeda dari dugaan Dong Bong-Su, yang dibawanya bukan dua orang, melainkan hanya satu, sesuatu yang agak aneh. Perbedaan lainnya, meski tekanan anginnya luar biasa, mata Tang Wu terbuka lebar dan menatap lurus ke bawah.
Tentu saja, Dong Bong-Su dan Tang Wu akhirnya saling berhadapan.
***
Tang Wu terkejut.
*’Tang Sam!?’*
Arus angin yang ganas menghantam matanya hingga terasa seperti akan pecah, tetapi penglihatannya sendiri tidak terganggu. Awalnya dia terkejut karena masih ada yang selamat, lalu dia lebih terkejut lagi karena orang itu adalah Tang Sam.
Tang Sam, yaitu Dong Bong-Su, sudah kembali ke penampilan aslinya karena naik Level, jadi mustahil Tang Wu tidak mengenalinya.
Bahkan di saat hidup dan mati seperti ini, dua kata terukir di benak Tang Wu: ‘bagaimana’ dan ‘kenapa’.
Bagaimana kau bisa ada di sini?
Kenapa kau memegang pedang seperti itu?
Tentu saja, dia tidak bisa mendengar jawabannya.
Pat-!
Sebagai gantinya, jawaban Dong Bong-Su atas tatapan penuh tanya dari Tang Wu adalah……….
Pedang Novice’s Sword.
Sangat wajar.
Pedang yang terlepas dari tangan Dong Bong-Su melesat ke arahnya dengan kecepatan mengerikan. Tang Wu tidak tahu, tetapi semua ini hanyalah sesuatu yang sudah ditetapkan.
“……!”
Terkejut, Tang Wu buru-buru mencoba mengerahkan tenaga telapak untuk menepis pedang yang datang.
Namun tubuhnya tidak menurut. Setelah pertarungan panjang itu, True Qi-nya sudah terkuras habis, dan luka yang dideritanya akibat Shifting Shadow dan Water Shadow juga sangat parah. Lagi pula, karena tubuhnya sedang dipercepat, lengannya juga ikut dipercepat ke bawah. Dia bahkan tak bisa menurunkan tangannya yang mengarah ke langit. Untuk menggunakan teknik telapak, dia harus menarik sikunya sedekat mungkin ke tubuh, tetapi itu mustahil, jadi sejak awal memang mustahil menggunakan teknik telapak.
Kematian.
Itu adalah sesuatu yang sudah diputuskan.
Tang Wu sudah menyerah untuk hidup sejak saat dia melompat dari tebing. Dia menjatuhkan dirinya hanya dengan satu pikiran: menyelamatkan Tang Hwa.
Mungkin kalau dia mengorbankan dirinya, cucu perempuannya bisa selamat?
Itulah yang dia pikirkan.
Namun rencana itu kini melenceng, dan krisis tak terduga kembali menimpanya.
Tang Wu mati-matian memelintir tubuhnya sebisa mungkin.
Pada saat itu!
Thud-!
Sebilah pedang dingin menembus bagian belakang kepalanya.
Purbuk! Swoosh!
Pedang itu menembus kepala Tang Wu, keluar di antara mulut dan hidungnya, menembus area philtrum wajah, lalu melesat ke langit. Dan pada saat itu, seberkas kejernihan sesaat muncul di mata Tang Wu. Bersamaan dengan itu, percepatan yang bekerja pada tubuhnya akibat tenaga yang dibawa pedang itu sangat berkurang.
Tang Wu memeras seluruh sisa energi kehidupan (vitalitas) dan melontarkan Tang Hwa tinggi ke langit. Teknik telapak yang tak mungkin dilakukan hanya dengan True Qi menjadi mungkin ketika dia mengerahkan energi vitalitasnya.
Berkat itu, tubuh Tang Hwa berhasil meniadakan sebagian besar kecepatan yang telah terkumpul dan melambat, tetapi di sisi lain, tubuh Tang Wu justru meluncur ke tanah dengan kecepatan yang jauh lebih dahsyat.
Gooooong-!
Tubuh Tang Wu, yang dipercepat sampai tingkat mengerikan, jatuh lurus ke bawah.
Dia jatuh begitu cepat hingga sebelum suara itu sempat mencapai tanah tempat Dong Bong-Su berdiri, tubuhnya lebih dulu tiba. Itu berarti tubuh Tang Wu telah melampaui kecepatan suara, dan itu juga berarti energi vitalitas yang dia curahkan di saat terakhir sungguh luar biasa.
Dong Bong-Su buru-buru melemparkan tubuhnya ke samping untuk menghindari mayat Tang Wu.
Boom-!
“Kakek!”
Bersamaan dengan tubuh Tang Wu, yang menyatu dengan pedang, menghantam tanah, Tang Hwa, yang menyaksikannya tepat dari udara, menjerit.
Pada saat yang sama, seberkas kejernihan sesaat yang tadi muncul di mata Tang Wu lenyap, dan cahaya suci memancar menyilaukan dari tubuh Dong Bong-Su.
Sepuluh kali.
Dong Bong-Su, yang telah membunuh Tang Wu, berhasil naik Level tak kurang dari sepuluh kali.
Namun Dong Bong-Su merasa itu aneh. Dia semula mengira membunuh Tang Wu akan memberinya jauh lebih banyak kenaikan Level.
10 Level. Tentu saja itu perkembangan yang luar biasa, tetapi tetap belum memenuhi harapannya.
“Terlalu sedikit.”
Dia mendekati jasad Tang Wu yang hancur. Lalu dia pun mengerti. Tubuh Tang Wu yang remuk total sebenarnya sejak awal sudah berada di ambang kematian. Yang dia lakukan hanyalah memberikan pukulan terakhir (Last Hit, nyampah). Bahkan tampaknya pembagian Poin EXP sudah terjadi ketika Tang Wu menyelamatkan Tang Hwa dengan energi vitalitasnya.
“Ini yang disebut last hit?”
Dia bukan pemain game, jadi tak tahu detailnya, tapi rasanya dia pernah mendengar istilah semacam itu di suatu tempat.
Bagaimanapun, istilah itu tidak penting.
Kalau begitu, hasil ini sudah lebih dari memuaskan.
Membunuh Tang Wu yang memang sudah sekarat lalu mendapat ‘Peningkatan Kekuatan’ sebanyak ini, apa itu masih kurang?
Dong Bong-Su tak lagi memberi perhatian pada Tang Wu yang sudah mati.
Thud.
Akhirnya, Tang Hwa mendarat di tanah. Berkat pengorbanan Tang Wu, dia bisa turun dengan selamat. Meski begitu, karena cahaya yang memancar dari tubuh Dong Bong-Su, dia tak bisa mendarat dengan baik.
Dong Bong-Su hanya berdiri diam di sana, mengawasinya terhuyung saat bangkit.
Tang Hwa berdiri dan menggelengkan kepala kuat-kuat. Tampaknya dia masih belum sepenuhnya pulih dari guncangan akibat jatuh.
Tangan yang dia pakai untuk menyentuh dahinya berlumuran merah oleh darah Tang Wu. Karena dia dan Tang Wu jatuh di tempat yang sama persis, itu tak terhindarkan.
“Ah! K-kakek!? Hik!”
Hal pertama yang dia lakukan setelah sadar adalah memeluk pecahan tubuh Tang Wu dan menangis.
Lalu dia melihat Pedang Novice’s Sword yang menonjol keluar melalui mulut Tang Wu—atau setidaknya bagian yang dia anggap sebagai mulutnya.
Terkejut, dia mengangkat kepala.
Tentu saja, pandangannya bertemu dengan Dong Bong-Su.
Dia diam-diam menatapnya dari jarak sekitar dua meter. Sosoknya begitu tenang, seolah sejak awal mereka berdua memang bersama di sana.
Namun Tang Hwa tidak bisa menerima itu.
“K-kau! Bagaimana kau bisa ada di sini!?”
Reaksi yang sepenuhnya sudah diduga.
Membosankan.
Tentu saja, Dong Bong-Su juga bisa menebak reaksi berikutnya.
“Kenapa……? Kenapa!? Kakekku!?”
Tap.
Alih-alih memberi jawaban yang klise, Dong Bong-Su hanya melangkah satu langkah ke arahnya.
【TL Note: Ini banyak menggunakan kosakata sains (fisika) jadi baca bener” lagi yak ges.】
——————————————————–
Discord (Klik untuk Join Komunitas)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!