Login Diperlukan

Wajib Login!

Login dulu buat baca novel ini

Login

Chapter 90

Translator: Wang Lin

Proofreader: Wang Lin

Chapter 90 – Lebih Buruk Dari Tidak Akrab

 

*(POV/Sudut Pandang Blood Heaven Blade Demon / Gu Cheonpa)*

Sejujurnya, ketika Geom Mugeuk bilang Geom Muyang akan datang menemuiku duluan, aku hampir tak percaya.

Geom Muyang akan datang mencariku dulu dan Mengabaikan Demon Supreme lain? Sangat tidak masuk di akal.

Tapi seolah memang sudah diatur, Geom Muyang benar-benar datang malam itu.

“Apa yang membawamu kemari?” tanyaku.

Dia mengangkat botol minuman yang dibawanya. “Aku datang karena ini berbagi minuman bersamamu. Kalau ingatanku tak salah, kau suka minuman ini, kan?”

“Kau mengingatnya dengan baik. Duduklah.”

Aku tak menyuruhnya masuk rumah; kami duduk di sebuah batu datar di halaman.

“Di luar lebih enak, ayo minum di sini, saja” katanya.

“Boleh juga.”

Aku menyuruh pelayanku membawa cawan dan sedikit makanan sederhana. Walau kami bertemu saat ia baru pulang waktu itu, kami belum sempat untuk benar-benar melihat satu sama lain.

Sekarang aku menilai energinya dengan tenang. Benar—ada sesuatu yang berbeda dari waktu ia pergi dulu.

“Kudengar kau sudah lewati Nine Demonic Walls?” tanyaku.

“Berkat perhatianmu, aku berhasil melewatinya.”

“Selamat,” kataku.

“Ketua Kultus pasti bangga,” jawabnya.

Aku mengajukan beberapa pertanyaan soal Nine Demonic Walls; Geom Muyang menjawab jujur sejauh yang boleh ia ungkapkan. Kami memang sering bicara soal seni beladiri dulu.

Geom Muyang suka membahas beladiri denganku. Aneh, tapi kami cocok.

Botol itu hampir habis ketika aku akhirnya bilang, “Kau datang tentu ingin tanya sesuatu, kan. Katakan saja.”

“Baik. Aku akan blak-blakan kalau begitu. Kenapa kau memilih adikku? Pasti ada alasan, atau sesuatu yang memicumu.”

“Tentu ada.”

Aku berhenti sejenak menimbang kata, lalu jawab, “Adikmu punya cara membuat orang tertarik padanya.”

Geom Muyang hanya mengangguk pelan. “Cara membuat orang tertarik…”

Mungkin ia sudah duga jawaban semacam itu, tapi mendengarnya tetap mengusik perasaan. Tak ada yang pernah bilang begitu padanya.

“Aku tak pernah merasakan ketertarikan dari Mugeuk. Bukan maksud meremehkan—aku cuma ingin tahu rasanya.”

“Tentu kau tak merasakannya. Tuan Muda Kedua tak punya alasan menarik perhatianmu, dan kau tak punya kelonggaran waktu juga untuk menerima perasaan itu, bukan?” 

“Iya, benar,” jawabnya dan meneguk lagi.

“Kau adalah seorang seniman beladiri yang hebat. Kau memiliki kualitas untuk menjadi sang Heavenly Demon.”

Aku mengatakan itu dengan sungguh. Kalau Mugeuk tak melesat naik, aku akan terus mendukung Geom Muyang.

“Tapi kau tetap memilih adikku, kan?”

“Dalam hidup, kadang kau terhempas secara tiba-tiba oleh suatu hembusan angin.”

“Andai saja aku juga berdiri di arah angin itu berhembus. Aku ingin menapaki jalan ini bersamamu.”

Matanya berkilau. Untuk sejenak, Geom Muyang berbicara dari hati.

“Bukankah masih banyak Demon Supreme lain?” tanyaku.

“Tidak. Aku butuh kau, Elder.”

“Kenapa?”

Meskipun Ma Bul ada di sisinya sebagai tangan kanan, di hatinya Geom Muyang memilihku. “Karena kau seseorang yang sangat kubutuhkan.” Tak ada alasan lain.

Kalau aku tak tahu dari Mugeuk bahwa Geom Muyang akan menemuiku dulu, mungkin aku akan tersentuh.

“Bolehkah aku ajukan beberapa tawaran, Elder?” katanya.

“Silakan,” jawabku.

“Jika aku jadi Heavenly Demon, aku akan mengangkatmu menjadi First Demon Supreme.”

“First Demon Supreme?”

“Benar, aku akan menghadirkan jabatan tertinggi yang diakui Paviliun Heavenly Demon untukmu. Aku juga akan memperbesar skala keluarga Southern Heavens Blade sebanyak tiga kali lipat. Aku juga akan menghapus batasan jumlah Blade Ghost dan memberikan dukungan signifikan kepada keluargamu. Selain itu, aku akan membuka Perpustakaan Heavenly Demon khusus untukmu—kau bisa masuk kapan pun membaca.”

Dia tahu aku menyukai buku. Perpustakaan Heavenly Demon bukan sekadar teks bela diri—banyak puisi, antologi langka yang membuatku sangat ingin membacanya.

Itu tawaran yang besar, melampaui kepentingan Demon Supreme lain.

Tentu aku tak langsung percaya bulat-bulat. Bisa saja nanti dia bilang, “Oposisi dari pihak Demon Supreme lain sangat kuat, jadi kumohon berkompromi sedikit, Tetua.”

Toh, aku bakal tua juga nanti layaknya harimau tua yang ompong, bukan?

“Kalau Ma Bul mendengar ucapan ini, dia pasti akan sangat kecewa karena dia dari awal percaya bahwa posisi itu adalah miliknya.”

Geom Muyang tak terkejut. “ Tidak ada opsi lain. Meski aku menghormati tetua Ma Bul, tapi aku percaya bahwa tetua Gu Cheonpa-lah orang yang pantas untuk posisi tersebut. Tetua juga boleh menyampaikan perkataanku ini kepada Ma Bul.”

Ia terlihat seolah yakin aku tak akan mengatakan hal ini pada Demonic Buddha. Dari mana keyakinan ini berasal? Apa ia sungguh menganggap aku orang yang semulia itu?

“Aku akan mempertimbangkan tawaranmu.”

“Baiklah, terima kasih.”

Kami bersulang. Saat ia hendak pergi, ia menambahkan, 

“Tetua, aku pasti akan jadi Heavenly Demon.”

Setelah ia pergi, aku mengeluarkan sesuatu dari mulut—sebuah detoxifying pearl yang pernah Geom Mugeuk berikan padaku. Aku belum sepenuhnya percaya pada Geom Muyang, meski ia membawa minuman alkohol enak untukku

Aku berpikir keras di kepalaku,

 “…Ya, kejadian ini sepertinya pernah terjadi sebelumnya.”

***

Ketika Geom Muyang kembali, Ma Bul sudah menunggunya.

“Apa kau pergi mengunjungi Blood Heaven Blade Demon?” 

“Kultus kita ini sungguh terbuka dan transparan seperti biasanya, ya.”

“Hal seperti ini bukanlah sebuah rahasia, apalagi ketika kau pergi mengunjunginya secara terang-terangan seperti itu. Tapi kenapa kau pergi mengunjunginya?”

“Aku pergi untuk menggaetnya.”

“Terus?”

“Dia bilang dia akan mempertimbangkannya.”

“Dia adalah seorang pengkhianat,” ujar Ma Bul keras—memilih kata yang tajam.

“Sekali berkhianat, orang pasti akan berkhianat lagi dan lagi Kau sudah tahu ini dengan sangat jelas, bukan?”

Geom Muyang kemudian mengucapkan sesuatu yang membuat Ma Bul terkejut.

“Waktu minum, dia memasukkan detoxifying pearl ke mulutnya.”

“Keterlaluan sekali dia!” geram Ma Bul.

Geom Muyang tetap tenang.

“Dia tidak mencoba menyembunyikannya, melainkan lebih seperti ingin mengatakan: ‘Aku tidak percaya padamu’….yah begitulah tipikal tetua Gu.”

“Jangan lagi berhubungan dengannya,” 

Lalu Geom Muyang bilang sesuatu yang lebih mengejutkan: 

“Oh, aku menawarkan posisi First Demon Supreme pada tetua Gu Cheonpa.”

Ma Bul seketika membeku. 

Dia yakin posisi itu adalah miliknya.

Karena itu dia dengan putus asa menunggu kalimat Geom Muyang yang berikutnya. Dia berharap Geom Muyang akan mengatakan ‘Aku hanya mengatakan itu untuk memancingnya, kau tidak perlu memikirkannya terlalu berlebihan.’

Namun Geom Muyang tidak mengatakannya.

‘Terus… apa sekarang? Apa kau sungguh akan memberikan posisi itu padanya?’

Ma Bul tanpa sadar mengatupkan gerahamnya. Kalau seseorang menggertakkan gigi dengan kuat, bila diperhatikan dengan saksama, itu terlihat jelas. Terlebih lagi, bagaimana mungkin seseorang setajam Geom Muyang tidak menyadarinya? Namun Geom Muyang berpura-pura tidak melihat apa pun dan tidak menunjukkan reaksi sedikit pun.

Berbagai pikiran terlintas di benak Ma Bul.

Apa itu sebuah kesalahan? Atau dia memang tidak peduli? Atau mungkin… dia tahu, dan sengaja melakukannya?

Ma Bul berpikir ini mungkin hukuman atas keterlibatannya dengan Yunnan Twin Freaks kali ini.

Hal seperti ini pernah terjadi sebelumnya. Yang paling menyulitkan Ma Bul dalam situasi seperti ini adalah kenyataan bahwa Geom Muyang selalu lebih cerdas dan lebih pintar dari siapa pun.

Karena itu, Ma Bul selalu berada dalam kebingungan—bertanya-tanya apakah ini benar-benar sekadar kesalahan, atau justru tindakan yang disengaja dengan maksud tersembunyi.

Dan di atas segalanya, bagian yang paling menyakitkan adalah ini:

Ia tidak bisa mengungkapkan perasaannya.

Seandainya itu orang lain, ia pasti sudah bertanya secara blak-blakan.

Kenapa kau melakukan ini? Kau mau mengabaikanku? Jaga sikapmu di depanku.

Namun, kata-kata itu tidak mudah keluar ketika berhadapan dengan Geom Muyang. Apakah karena sejak awal ia salah melakukan langkah pertama dalam awal proses hubungan mereka? Atau karena ada dinding tak kasatmata yang sengaja dibangun Geom Muyang di antara mereka?

Hubungannya dengan Geom Muyang adalah sesuatu yang hanya ia renungkan seorang diri.

Hubungan yang lebih buruk daripada tidak dekat…

Pada akhirnya, Demonic Buddha sampai pada kesimpulan yang selalu sama.

‘Yah, hal seperti ini bisa terjadi. Dia masih muda.’

Sebagai orang dewasa, ia harus menahannya. Tugas yang ia pikul adalah membentuk seorang pemuda penuh ambisi menjadi Heavenly Demon.

“Kita juga harus merawat orang-orang kita. Mereka semua sedang memperhatikan.”

Kau harus paham bahwa kalimat ini keluar setelah semua pemikiran itu!

Apa Geom Muyang membaca pikiran Ma Bul?

“Aku tidak punya banyak keterikatan pada Demon Supreme lainnya.”

“Apa maksudmu?”

“Tetua seperti dirimu atau Blood Heaven Blade Demon secara terbuka menyatakan siapa yang kalian dukung, bukan? Tapi Demon Supreme lainnya hanya menonton dan menunggu. Nanti mereka akan bergabung dengan pihak yang paling menguntungkan. Hubungan semacam itu sangatlah dangkal.”

Sebenarnya akan jauh lebih baik bila dia tidak mengecualikan Blood Heaven Blade Demon dari ucapannya. Tidak—jika dia benar-benar ingin menipu, dia justru akan sengaja mengecualikannya. Kejujuran seperti ini adalah bentuk penghormatan.

“Meski begitu, kita tetap membutuhkan mereka.”

“Aku hanya mempercayaimu, Tetua.”

Ma Bul dan Geom Muyang saling tersenyum.

Demonic Buddha merasa sedikit lebih lega, namun simpul di dadanya belum sepenuhnya terurai.

‘Lalu… siapa yang akan kau tunjuk sebagai First Demon Supreme?’

Namun pada akhirnya, baik Geom Muyang maupun Ma Bul tidak lagi mengangkat topik itu.

***

Blood Heaven Blade Demon datang menemuiku dengan ekspresi terkejut.

“Kau benar. Tuan Muda Pertama benar-benar datang menemuiku. Bagaimana kau bisa tahu?”

“Ini rahasia… aku punya kemampuan melihat masa depan.”

“Kau masih se-sinting dulu. Syukurlah tidak ada yang mencuri pikiranmu dengan teknik soul-reaping.”

Aku tersenyum mendengar candaan pria tua Sword Demon itu.

“Sudah kubilang, begitulah kakakku.”

“Kali ini aku benar-benar merasakannya.”

Blood Heaven Blade Demon ragu sejenak sebelum berbicara. Namun karena sudah membuka topik, ia pun melanjutkan. Mengingat sifatnya, keraguan itu bisa dimaklumi.

“Aku menyadari lagi… seperti apa dirimu bagiku.”

“!”

Diskusi Bab (0)

Silakan Login untuk berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Pengaturan Baca

Tema Warna
Jenis Font
Poppins
Serif
Roboto
Mono
Arial
Tahoma
Ukuran Font 1.1rem
Jarak Baris 1.8
Spasi Paragraf 1.2em
Jarak Huruf 0px
Lebar Halaman Normal
Posisi Teks

Semua Bab