Translator: Wang Lin
Proofreader: Wang Lin
Chapter 91 – Benaran Kelihatan, ya?
Jeong Dae duduk di dekat jendela, menatap ke luar.
Di halaman, Cheong Seon—Soul Reaper Demon Supreme—sedang berlatih bela diri. Sejak resmi menjadi Soul Reaper Demon Supreme, waktu latihannya memang berkurang, tetapi kemampuannya terus meningkat dari hari ke hari. Ia jelas memiliki bakat dalam teknik soul-reaping.
Jeong Dae, yang sejak tadi mengamati latihan Cheong Seon sambil memainkan Millenial Cold Iron Dagger di tangannya, secara refleks menoleh ke belakang.
Di belakangnya berdiri lemari pajangan yang kini kosong—tempat relik suci dulu disimpan.
Ia menghela napas.
Saat menerima belati itu, ia sempat berpikir tidak masalah menjadikannya relik suci. Namun sekarang, satu-satunya relik suci di ruangannya hanyalah Millenial Cold Iron Dagger di tangannya. Dalam arti tertentu, ia telah menukar semua relik suci itu dengan satu belati ini.
‘Tidak. Jangan hidup dengan terus menoleh ke belakang.’
Ia harus mengubah kehampaan itu menjadi kelegaan.
Di masa lalu, ia bahkan terlalu memikirkan relik suci sampai tidak berani keluar hanya untuk minum teh.
Namun sekarang, ia bisa pergi ke mana saja hanya dengan belati ini di sisinya. Kehampaan memang membawa kebebasan—ternyata itu benar. Ya, begitulah seharusnya ia berpikir.
Tak lama kemudian, Cheong Seon menyelesaikan latihannya.
“Master, aku pamit dulu untuk hari ini.”
“Kau sudah bekerja keras.”
Cheong Seon yang hendak berbalik tampak ragu, lalu berbicara.
“Master.”
“Ada apa?”
“Kapan Master akan mengajarkanku teknik rahasiamu yang sesungguhnya?”
Mantan Ketua Kultus Heavenly Wind belum mewariskan teknik rahasianya kepadanya.
“Cheong Seon.”
“Ya, Master.”
“Kenapa kau begitu terburu-buru?”
“Karena aku lemah. Kelemahanku membuatku tidak sabar.”
Ia telah membunuh seniornya dan naik ke posisi Demon Supreme. Awalnya, para soul sorcerer dari Western Illusion Formation menyambutnya dengan antusias, tetapi kini semangat itu mulai mereda. Akhir-akhir ini, ia merasa tertekan untuk menunjukkan kekuatan bela diri yang benar-benar luar biasa kepada bawahannya.
Selain itu, ia juga terganggu oleh Sa Woojong, yang terus berusaha menemuinya setiap ada kesempatan. Dulu ia sangat menyukainya, tetapi setelah menjadi Demon Supreme, rasa suka itu lenyap seolah tidak pernah ada. Apa pun yang ia lakukan kini terasa menjengkelkan.
Ia ingin memutuskan hubungan sepenuhnya, tetapi takut Sa Woojong akan menyebarkan rumor aneh, sehingga ia masih sesekali bertemu dengannya.
Ia bahkan sampai berpikir—mungkin lebih baik membunuhnya saja.
“Kau ingin jadi Demon Supreme yang seperti apa?”
“Aku tidak punya waktu untuk memikirkan hal semewah itu. Dengan kemampuan seperti ini, bagaimana aku bisa tidur nyenyak?”
“Jika seseorang yang berbakat dan ambisius sepertimu berlatih dengan tekun selama tiga puluh tahun, kau akan menjadi sepertiku. Bagaimana? Dirimu di masa depan.”
Cheong Seon tersentak.
“Kalau begitu, aku harus berlatih sepuluh kali lebih keras dari sekarang.”
Setelah mengatakannya, ia sempat khawatir telah bercanda berlebihan, tetapi Jeong Dae justru tertawa lepas dan menerimanya dengan santai.
“Tidak bisakah kau bilang lima kali lebih keras saja?”
“Maaf. Sebenarnya aku mau bilang dua puluh kali.”
Ia melontarkan candaan lagi, dan tawa Jeong Dae pun semakin keras.
Itu adalah pertama kalinya mereka saling bercanda sejak bertemu.
Cheong Seon melihat sisi baru dari mantan Ketua Kultus Heavenly Wind. Ia mengira pria itu kaku, tetapi ternyata tidak sepenuhnya demikian.
“Yah, kau punya mata dan telinga. Kau pasti sudah cukup tahu apa yang kualami dan situasiku sekarang.”
Ia tidak menjelaskannya secara langsung. Namun Cheong Seon pasti sudah tahu cukup banyak—bahwa ia menyerahkan posisi Ketua Kultus dan bergabung dengan Geom Mugeuk. Apa sebenarnya yang ia pikirkan tentangnya?
“Aku tahu kau diam-diam menganggapku menyedihkan.”
“Tidak. Master membuat pilihan yang tidak akan pernah bisa kubuat.”
“Pilihan yang justru membuatku lebih menyedihkan?”
“Pilihan yang justru membuat Master lebih mengagumkan.”
“Alasan aku mengatakan ini adalah karena, meskipun bela diri itu penting, ada sesuatu yang jauh lebih penting.”
“Apa itu?”
“Manusia. Lebih tepatnya, kemampuan melihat manusia apa adanya.”
“Ya.”
“Saat ini, kau mungkin berpikir, ‘Omong kosong apa yang dia bicarakan?’”
“Tidak, Master.”
“Aku pasti akan berpikir begitu juga, jadi tidak apa-apa.”
“Sama sekali tidak.”
Ketika Jeong Dae menatapnya, Cheong Seon mengungkapkan isi hatinya.
“Kalau kemampuan bela dirimu lemah, kau akan menjadi orang yang tak berguna. Pada akhirnya, semua orang di sekitarmu akan meninggalkanmu. Maaf Master, tapi bagiku, aku masih percaya bahwa bela diri lebih penting daripada manusia.”
“Ya. Dulu aku juga berpikir seperti itu. Suatu hari nanti, kau akan mengerti apa yang kumaksud.”
“Ya, aku mengerti.”
Mengerti? Bagaimana mungkin? Pada usia itu, ia pun sama. Tak peduli siapa yang berkata apa, semuanya tidak pernah benar-benar masuk ke hati.
Hanya setelah ditipu oleh orang secerdik Geom Mugeuk, kehilangan semua relik suci, dan diseret dengan belenggu di lehernya, barulah ia akan menyadari: ‘Ah, Perkataan master dulu benar.’
Bahwa bela diri memang penting untuk membunuh orang—tetapi dalam kehidupan nyata, kemampuan melihat manusia seratus kali lebih penting.
“Sebentar lagi, berdasarkan pencapaianmu, kau akan melangkah ke tahap berikutnya.”
“Terima kasih, Master.”
Cheong Seon pergi dengan senyum puas.
Ketika menerima Cheong Seon sebagai murid dulu, Jeong Dae hanya melihatnya sebagai perempuan ambisius yang kejam. Saat itu pikirannya terlalu sibuk dengan urusan lain untuk benar-benar memikirkannya.
Ia sempat bertanya-tanya apakah mereka bisa membangun ikatan yang kuat. Namun seiring mengajarinya, rasa keterikatan perlahan tumbuh.
Terutama akhir-akhir ini—setelah dimanipulasi oleh orang-orang licik—memiliki seseorang yang bisa ia nasihati sebagai seorang mentor terasa menyegarkan.
Namun ketenangan itu singkat.
Tak lama setelah Cheong Seon pergi, tamu lain datang.
Tuan Muda Pertama, Geom Muyang.
“Aku datang menemui mantan Ketua Kultus. Maaf karena tidak memberi kabar sebelumnya.”
“Tidak apa-apa. Silakan masuk.”
Geom Muyang duduk berhadapan dengan Jeong Dae.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!