Translator: Wang Lin
Proofreader: Wang Lin
===============================
Chapter 89 – Aku Bukan Ikan Pancingan
Setelah berpisah dengan kakakku, aku pergi mencari Lee Ahn.
Aku sendiri tidak tahu kenapa tiba-tiba terpikir untuk menemuinya. Mungkin… karena aku ingin melihat orang yang paling bisa memahami diriku.
Seperti biasa, Lee Ahn sedang berlatih tanpa henti.
Ia selalu berlatih.
Sosoknya yang ada dipikiranku tercampur dengan sosoknya ketika sebelum aku regresi dulu.
Butuh waktu lama sebelum ia akhirnya sadar akan kehadiranku.
“Tuan Muda Kedua! Kapan kau datang?”
“Sudah lama.”
“Kalau kau adalah seorang assassin, apa yang akan terjadi, tuan muda?
“Dengan kemampuanmu sekarang? Kau pasti akan mati dua puluh kali.”
“Ah!”
Aku menghunus pedangku dan melangkah maju ke depannya.
“Ayo kurangi dua puluh itu menjadi sembilan belas.”
Mata Lee Ahn langsung berbinar—tanda ia tahu aku akan mendemonstrasikan teknik Soaring Sword Art.
“Terima kasih!”
Sudah lama aku tidak mendemonstrasikan teknik ini secara penuh.
Aku tidak menurunkan levelku, tapi menunjukkan seluruh rangkaian teknik dari awal sampai akhir—level Great Achievement tingkat sebelas bintang.
Perbedaan antara sepuluh bintang dan sebelas bintang sangatlah jauh. Mungkin ia tidak merasakannya sedalam aku, tapi seberapa banyak ia menangkap hari ini… akan menentukan masa depannya.
Setelah selesai, Lee Ahn terdiam, tatapannya kosong.
Aku tahu. Ia telah memasuki kondisi selflessness.
Agar tidak mengganggunya, aku duduk bersila, menahan napas. Tidak tahu kapan ia akan keluar, aku juga tidak bisa hanya diam—jadi aku mulai melatih Teknik Heavenly Demon Body Protection.
Dulu, akulah yang tenggelam dalam keadaan selflessness saat latihan dengannya. Hari ini, sekarang giliran dia.
Enam jam berlalu.
Enam jam yang tenang, tanpa suara. Dan akhirnya aku merasakan kesadarannya kembali.
Selamat, Lee Ahn.
Enam jam dalam keadaan selflessness bukanlah sesuatu yang dapat terjadi dengan mudah dalam hidup senimanan bela diri.
Ia melihat sekeliling yang sudah gelap, kebingungan.
“Tuan Muda Kedua?”
“Bagaimana rasanya? Pengalaman pertamamu masuk ke keadaan selflessness.”
“Keadaan selflessness? Maksudmu… aku benar-benar memasuki keadaan itu?”
“Iya.”
“Aku pikir aku cuma sedang bengong sebentar?”
“Kalau konteksnya seluruh hidup kita… enam jam itu memang cuma sebentar.”
“Enam… jam!?”
Itulah saat penting—saat kesadaran baru kembali.
“Sekarang tunjukkan teknik Soaring Sword Art-mu padaku.”
“Baik!”
Ia memperagakan teknik itu sekali lagi.
Dan hasilnya… luar biasa.
Delapan Bintang.
Ia benar-benar naik ke tingkat Delapan Bintang hanya dengan melihat demonstrasiku, lalu memasuki keadaan selflessness.
“Aku cuma melihatnya sekali… bagaimana ini bisa terjadi?”
“Cuma melihatnya? Apa menurutmu itu mungkin? Kau berlatih seperti beruang setiap hari. Tanpa semua usaha itu, memasuki keadaan selflessness pun tidak akan berguna.”
“Walau begitu… ini masih luar biasa.”
“Itu semua hasil dari usahamu. Pada akhirnya, keadaan selflessness hanyalah bunga yang mekar dari akar yang sudah kau tanam.”
Aku mengajarinya, dia mengasah bakatnya tanpa henti. Perbedaan sebelas bintang memberinya inspirasi mendalam, dan enam jam itu menjadi katalis. Semuanya terakumulasi menjadi pencapaian hari ini.
“Jangan terlalu bersemangat. Kau tahu kan? Di awal naiknya cepat, tapi semakin tinggi semakin lambat. Anggap delapan bintang itu baru permulaan. Dari sini ke puncak… bisa butuh satu hidup penuh.”
“Walau butuh seumur hidup pun, aku pasti mencapainya. Kalau Langit memberiku kesempatan ini, tidak mungkin aku menyia-nyiakannya.”
Dan itu juga berarti satu hal:
Waktu untuk teknik Divine Poison Purification semakin dekat.
Untuk melakukannya tanpa efek samping, kekuatanku penting—tapi tingkat pencapaiannya juga sangat krusial. Seorang gadis dengan bakat besar tapi level belaidiri yang lemah justru bisa menghadapi malapetaka.
Aku berniat menunggu sampai dia mencapai sembilan bintang. Dengan itu, ia bisa melindungi dirinya ke mana pun dia pergi.
Tapi pencapaian hari ini… mempercepat segalanya.
“Sekarang kau cuma mati dua kali, bukan dua puluh.”
Lee Ahn langsung berlutut dan membungkuk.
“Terima kasih, Tuan Muda Kedua.”
“Tidak perlu formal begitu.”
“Tapi… apa sebenarnya hubungan kita? Aku cuma pengawalmu. Kenapa kau begitu baik padaku?”
Karena kau melindungiku dengan nyawamu, dan semuanya bermula dari itu.
“Lee Ahn.”
“Ya.”
“Tadi, setelah bertemu kakakku, aku merasa gusar. Dan orang pertama yang terpikir di kepala… adalah kau. Itu sebabnya aku baik padamu.”
Ia menatapku, matanya bergetar.
“Dan sekarang kau sudah memakai dua dari lima pertanyaanmu.”
Ia pernah meminta penjelasan lima kali saja.
“Sekarang tinggal tiga.”
“Akan kugunakan dengan hati-hati.”
“Kau sudah delapan bintang, jadi mulai sekarang gunakan teknik Soaring Sword Art lebih berhati-hati. Kekuatannya berbeda dari sebelumnya.”
“Baik, Tuan Muda Kedua.”
“Dan Lee Ahn… meski kau sedang semangat… jangan hidup hanya untuk berlatih.”
“Baik!”
Ia mengangguk dengan senyum lebar.
Dan itu alasannya.
Karena kau adalah orang yang tersenyum dan mengangguk seperti itu di sampingku. Karena walau kau pintar dan punya pendapat sendiri, kau tetap bisa menerima kata-kataku dengan tulus seperti itu.
Orang seperti dirimu… Semua orang ingin punya satu dalam hidup mereka.
Bertahanlah, Lee Ahn. Mari naik sampai puncak bersama.
***
Saat aku kembali dari menemui Lee Ahn, Blood Heaven Sword Demon sudah menunggu di depan kediamanku—Heaven-Extinguishing Saber tertancap di tanah.
“Kenapa kau di sini?”
“Aku sedang mengenang hari pertama aku bertemu denganmu di tempat ini.”
“Apa kau ingin semuanya kembali seperti dulu karena sekarang kakakku sudah kembali?”
“Aku hanya ingin kau tahu… ikan yang kutangkap itu bukan milikku.”
Ia mencabut Heaven-Extinguishing Saber, lalu menarik garis panjang di tanah.
“Pertama kali aku bertemu kau, garisnya di sini.”
Ia menarik garis kecil di ujung.
“Dan sekarang… di sini.”
Ia menambah garis baru, sekitar lewat setengah panjang garis pertama.
“Oh! Sudah lewat setengah!”
“Hanya sedikit. Apa itu sesuatu untuk dirayakan?”
“Lebih dari cukup.”
“Cukup?”
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!