Login Diperlukan

Wajib Login!

Login dulu buat baca novel ini

Login

Chapter 83

Translator: Wang Lin

Proofreader: Wang Lin

Chapter 83 – Bak Dua Meteor Bertemu

Dua hari kemudian, Ketua Kultus Heavenly Wind meninggalkan Kultus Divine Heavenly Demon, membawa semua bawahannya.

Ia berpamitan kepada Heavenly Demon tetapi bahkan tak memberi salam pada para Delapan Demon Supremes.

Soal ini, praktisi Demonic bergosip bahwa ia pergi dengan marah karena pencurian relik suci.

Hanya kami yang tahu alasan sebenarnya mengapa ia tiba-tiba pulang.

“Sang Ketua memang orang yang tak sabaran. Dia akan merapikan kultus Heavenly Wind dan kembali secepat mungkin.”

Kami sudah membahas dengan matang bersama Gowol siapa yang akan menjadi Ketua berikutnya dan bagaimana restrukturisasi internal akan dilakukan.

“Terima kasih sudah menerima proposal pertamaku kali ini.”

“Akulah yang harusnya berterima kasih. Berkatmu, aku bahkan mendapat seorang tokoh besar dari kultus Heavenly Wind sebagai sekutu.”

“Kau lihat bagaimana dia menggemuk karena menelantarkan latihannya, cuma makan dan main, kan? Kita harus pastikan dia latihan dengan benar saat kembali nanti.”

“Kau harus membuatnya latihan. Siapa lagi yang berani bilang begitu pada Supreme of the Wilderness?”

“Serahkan tugas itu padaku.”

Rasanya benar-benar seperti telah meraih sesuatu yang besar. Bukan hanya mendapat Ahli Strategi luar biasa (Gowol), tapi juga master absolut—Ketua Kultus Heavenly Wind. Meski sempat dipermainkan dan direpotkan selama kunjungannya ke kultus kami, ia tetap yang terkuat di Wilderness. Walau duel para master tak pernah bisa diprediksi, aku ragu ada Demon Supreme yang cukup percaya diri mengklaim bisa mengalahkannya satu lawan satu.

“Penasehat Go.”

“Iya, Tuan Muda.”

“Peran Ahli Strategi akan membuatmu mau tak mau mengamati orang lain. Namun, pastikan kau meluangkan waktu juga untuk menjaga dirimu sendiri.”

Aku memilih menggunakan kata “menjaga diri” dan bukan “melakukan refleksi diri” — bahkan tanpa komentar yang terdengar seperti nasihat, Gowol yang cerdas pasti paham makna yang lebih dalam dari ucapanku.

“Tuan Muda sungguh hangat dan baik.”

“Ya, aku sering mendengar kalimat itu. Itu artinya aku pintar akting.”

Gowol tak percaya aku sedang akting.

“Aku akan menutup kelemahan yang datang bersama dengan kebaikan itu.”

“Pelan-pelan saja. Tak apa.”

“Iya.”

“Aku segera kembali. Selama ini aku lalai mengurus orang-orang lama saat menjaga kau. Saatnya merawat mereka.”

“Baiklah.”

Aku langsung menuju Paviliun Heavenly Demon. Urusan harus diselesaikan dari paling atas.

***

Ayah berada di arena latihan.

Biasanya ketika aku memasuki arena, Ayah selalu mengujiku dengan serangan kejutan, tapi hari ini ia sedang menunduk pada papan Go di tengah arena.

“Kau main Go juga?”

Aku tahu Ayah suka Go, tetapi aku belum pernah melihatnya benar-benar bermain sendiri.

“Di kultus kita, hanya beberapa orang yang bisa mengalahkanku.”

“Di permainan Go maksudnya?”

“Tentu saja.”

“Bukannya Ayah biasanya memberi isyarat maut kalau permainannya tak berjalan mulus? Terus Paman Hui diam-diam muncul di belakang lawan dan… menusuk lawan.”

“Terkadang. Pertandingan harus dimenangkan juga.”

Aku tertawa pada lelucon Ayah dan mendekatinya. Aku cukup tahu kemampuan Go Ayah. Seperti yang dikatakan, dia bukan jago luar biasa, hanya cukup bagus. Kalau dia sering menang, mungkin karena banyak yang sengaja membiarkannya menang. Semacam menurunkan standar di hadapan sang Heavenly Demon.

“Ini kuis yang Sima Myung berikan kepadaku, tapi aku tak menemukan jawabannya.”

Ia memberi sebuah kuis hidup-dan-mati yang sulit.

Kucermati kuis itu dan berkata pada Ayah.

“Kalau menaruh batu di sini, bukankah batu putih itu hidup?”

Setidaknya soal Go, aku lebih jago dari Ayah. Setelah memastikan jawabanku benar, Ayah tampak sedikit terkejut.

“Menakjubkan..”

“Biasanya penonton yang menonton dari samping melihat lebih banyak hal daripada orang yang bermain langsung.”

“Menonton dari samping? Aku sendirian dalam hal ini.”

“Tapi kau punya lawan, kan?”

“Siapa?”

“Harga diri. Tekad untuk memecahkan kuis itu apa pun caranya secara sendirian.”

Ayah terkekeh dan duduk menghadap papan Go.

“Duduklah dan ayo main.”

“Baik. Tapi jangan berikan isyarat maut padaku kalau Ayah kalah.”

Aku bermain Go dengan Ayah.

Berburu, makan, dan sekarang Go — hal-hal yang dulu tak terpikirkan sebelum regresi.

Aku fokus pada permainan tanpa canda berlebih. Bunyi batu Go jatuh mengisi keheningan dengan enak.

Tak istimewa. Hanya seorang ayah dan anak main Go. Kenapa kami tak pernah lakukan ini sebelumnya? Kenapa aku begitu takut melihat wajah ayah?

Keindahan Go adalah tak perlu kata sampai akhir.

Namun begitu banyak terjadi. Aku bangun wilayahku, Ayah membangun wilayahnya. Kadang aku menyerbu wilayah Ayah, kadang kukejar seperti iblis yang melarikan diri. Kadang menyerah, kadang bergerak berani.

Bermain Go dengan Ayah sangat menyenangkan, dan aku pun bermain dengan serius. Aku tahu betul kalau Ayah ini bak simbol persaingan kompetitif. Kalau dia merasa aku sengaja kalah, hasilnya bisa lebih buruk dari menang telak.

Permainan berlanjut, Ayah mengusap dagunya. Pertama kali kulihat ia merenung begitu dalam. Bahkan saat perang dengan Aliansi Murim, aku ragu pandangannya pada peta perang se-intens ini.

Kutahan dorongan untuk bercanda, tapi aku tak bisa menyingkirkan senyum tipis di balik tangan. Kalau kubuat lelucon di sini, Ayah mungkin akan membalikkan papan Go karena frustasi.

Mungkin Ayah juga ingin bercanda dengan melakukan isyarat maut saat ini.

Tapi tentu saja itu tidak terjadi.

Permainan berakhir dan aku menang enam poin.

“Seperti yang diharapkan dari sang Heavenly Demon, pertandingan sangat sengit. Aku nyaris saja kalah.”

“Sejak kapan kau belajar Go?”

“Aku pelajari sedikit demi sedikit. Kudengar kau belajar Go dari Ahli Strategi Sima. Oh, dan aku selalu siap untuk tanding ulang kalau Ayah tidak puas.”

Melihat wajah kemenanganku, Ayah mengulurkan tangan di atas papan.

Dengan gerakan cepat, batu-batu Go terangkat, hitam dan putih saling menyeberang cepat. Mereka bergerak anggun, kembali ke wadah masing-masing bak pertunjukan. Terlihat hidup, berenang pulang seperti kawanan ikan.

“Ah!”

Aku seru kagum. Teknik itu tampak menyampaikan satu pesan:

—Ini tahap akhir dari Void Telekinesis, paham?

Gerakan itu saja sudah membuatku rendah hati, namun Ayah tampaknya belum selesai.

“Aku tak bisa membiarkanmu pergi begitu saja setelah mengalahkanku, ayo sparring.”

“Ayah keterlaluan. Aku baru mau menikmati kemenangan dan keluar dengan bangga dari Paviliun Heavenly Demon.”

“Kalau kau lalai latihan, kau tak akan bisa keluar dari sini.”

Niatnya jelas: dia tidak ingin aku pergi begitu saja tanpa perlawanan. Seolah melampiaskan frustasi kalah Go, tapi aku tahu tidak se-simple itu.

Aku tahu alasan sebenarnya. Ia marah soal urusan Ketua Kultus Heavenly Wind. Ia tahu aku berinteraksi dengan kultus Heavenly Wind dan bahkan menerima Ahli Strategi mereka, meski ia ingin menjauhkan diri dari mereka.

“Mereka bilang para great demons tak mati, jadi sepertinya aku juga takkan mati kan hari ini?”

“Kau mending berharap rumah yang kau bangun saat ini  bukanlah penjara.”

Aku punya partner sparring yang menunggu. Satu laga dengan Ayah lebih berguna daripada sepuluh laga melawan One-Slash Sword Supreme.

Saat Ayah menggenggam pedang Heavenly Demon, udara di sekeliling kami memberat, tekanan tak kasat mata menekan tubuhku. Bukan dorongan tajam, tapi seperti bongkah besar menekan dari segala sisi.

Aku juga menghunus pedang Black Demon dan secara otomatis mengaktifkan teknik Heavenly Demon Body Protection.

Saat kuhadapi tekanan awal tanpa berubah ekspresi, aura Ayah makin menguat.

Aku pun meningkatkan intensitivitas teknik Heavenly Demon Body Protection lebih dalam lagi. Setelah merasakan keadaan kehampaan dan ketiadaan sebelumnya, teknik pelindung tubuhku sudah mencapai level yang cukup untuk menahan tekanan itu lagi.

Kali ini aura Ayah berlapis dengan niat membunuh.

Itu pertama kalinya aku merasakan langsung niat membunuh Ayah. Menakutkan dengan cara yang tak terduga.

Rasanya seperti kematian mendarat enteng di suatu tempat di tubuhku, sehalus kupu-kupu sehingga tak tahu tepat di mana. Ia menciptakan rasa takut yang menusuk, membuatku mencari sumber niat membunuh itu, hanya untuk menyadari pada akhirnya bahwa aku telah jatuh dalam lautan ilusinya. Rasa takut yang datang dari realisasi ini sangat luar baisa dan aku bahkan tidak tahu bagaimana cara mengatasinya. Niat membunuh Ayah adalah puncak gabungan dari semua emosi negatif itu.

Aku tak melawan niat membunuhnya; sebaliknya, aku merasakan dan menerimanya. Di tengah ketakutan dan keputusasaan yang intens, aku fokus agar tak kehilangan diri. Aku berjuang merasakan ketakutan tanpa dimakan olehnya.

Bertahan tanpa melawan.

Kadang, sekadar bertahan dan menerima bisa jadi tekanan besar bagi lawan.

Ayah memang terkejut. Kejutannya tersampaikan padaku jelas, seolah berkata:

‘Apa kemampuanmu benar telah meningkat sampai sejauh ini?’

Saat kubaca emosi itu di matanya, Ayah melesat ke arahku.

Aku menangkis lajunya memakai Underworld King Step, menahan serangannya secara langsung..

Klang!

Kami bertubrukan, hanya menyisakan suara dingin logam yang berbenturan.

Kami bergerak serentak dari titik awal.

Pedang Black Demon di tanganku bergetar karena benturan, begitu juga pedang Heavenly Demon Sword. Dulu, aku takkan menyadarinya, tapi dengan penglihatan yang menguat berkat teknik New Eye, aku dapat melihat bahkan getaran terhalus darinya.

Apa pergelangan tangan Ayah sesakit yang kurasakan?

“Kupikir kau hanya pandai main politik, ternyata kau cukup kuat juga.”

“Urusan asmara dan latihan bela diri lebih baik sembunyi-sembunyi, bukan? Aku sudah berlatih dengan keras selama ini.”

Memang, aku mendorong diri semaksimal mungkin, mengurangi tidur untuk lebih banyak berlatih.

Bahkan jika tiba-tiba ingin menghindari latihan, tubuhku tidak mengizinkannya. Energi dalam murni yang terakumulasi di dantian-ku meronta untuk dikeluarkan, dan Teknik Four Strides of The Wind God terus meminta untuk dicarikan lawan yang kuat. Penguasaanku akan teknik Soaring Sword Art meningkat pesat hingga masuk ke ranah baru, dan dengan teknik New Eye, penglihatanku pun semakin meningkat.

“Mari kita lihat apa kau bisa menahan serangan ini.”

Begitu Ayah bicara, ia lenyap dari pandanganku. Di saat yang sama, aku pun menghilang juga, menggunakan Dark Shadow Step seperti dirinya. 

Pedang kami bertemu di udara ketika kami muncul di tepi arena latihan.

Kami berdiri dengan form yang identik, seperti kembar yang melakukan gerakan sinkron.

Sekilas wajah Ayah memancar kegembiraan di balik silang pedang. Gembira karena bertemu lawan sepadan.

Aku paham kesepian seorang master absolut, tapi Ayah, ingat, aku anakmu, bukan musuh.

Saat pedang kami berpisah, pedang Heavenly Demon dan pedang Black Demon melukis langit.

Kami masing-masing meluncurkan teknik Balancing the Heavens Style satu sama lain.

Sinar putih pedang kami membelah langit.

Bak dua meteor bertemu di langit malam, dua sinar itu bertemu lalu lenyap. Singkat, tapi indah.

Kali ini kami serentak mengeluarkan teknik Transforming Heavens Style.

Ada dua belas perubahan terjadi di angkasa, baik dari pedang Heavenly Demon maupun pedang Black Demon.

Jika satu sisi terlihat cerah menakjubkan, maka yang lain pun sama. Jika satu menghasilkan berat tekanan yang luar biasa, yang satunya lagi pun mengimbanginya. Jika yang satu cepat bak kilat, yang lain pun sama cepatnya. Perubahan bertemu perubahan lalu saling memadamkan.

Serangan kami identik. Seperti melukis tinta di satu sisi kertas lalu melipatnya untuk cerminan di sisi lain, kami bertukar serangan yang identik.

Ayah dengan lapang hati terima niatku menirunya dan tak memakai serangan tidak ortodoks.

Serangan berikutnya adalah Form Kelima Transforming Heavens Style.

Energi pedang dahsyat menyapu arena. Saat dua energi bertemu, seluruh arena berguncang. Dengan sedikit lagi pancaran energi dalam, maka seluruh arena bisa runtuh dalam seketika.

“Berhenti!”

Ayah menghentikan sparring. Ia pasti menilai gerakan selanjutnya terlalu berbahaya. Ini membuktikan betapa hebatnya kekuatanku sekarang.

Ayah, yang jarang tampak terkejut, kembali tercengang hari ini.

“Kau mengalami banyak peningkatan..”

Ia pakai kata “banyak.” Itu berarti kemampuanku meningkat drastis.

“Kemampuanmu sudah cukup.”

Dalam kata itu tersirat pengampunan.

Belakangan aku lebih sibuk soal kultus Heavenly Wind. Kalau aku lalai latihan karena itu, Ayah berniat beri pelajaran keras hari ini. Namun melihat peningkatan signifikan, ia memilih untuk memaafkan.

Hasilnya, maksud hukuman berubah jadi hadiah. Sesi sparring dengan Ayah adalah pengalaman yang tak ternilai harganya, tak bisa dibeli bahkan dengan sejuta nyang sekalupun.

Bertanya pada Ayah, “Butuh berapa uang agar layak tanding dengannya?” bisa membuatku mati, bahkan meski aku anaknya.

Saat mengeksekusi teknik yang sama, aku merasakan banyak hal. Bagi pengamat, gerakan kami tampak identik, tapi aku jelas merasakan perbedaan. Hanya dengan merasakan perbedaan halus itu seseorang menjadi master sejati.

Hari ini, aku meraba arah samar Twelve Star Greatness dari teknik Soaring Sword Art.

“Lapar tidak? Bagaimana kalau anakmu yang traktir hari ini? Ayo makan di desa Maga.”

Aku tidak dengar kabar Ayah pergi ke desa Maga belakangan ini, jadi kupikir dia akan menolak.

“Ayo.”

Aku terkejut dengan persetujuannya.

“Ayah beneran mau pergi?”

“Jadi kau cuma basa-basi doang?”

“Tentu tidak. Ayo!”

Ayah ganti baju sederhana dan topi bambu untuk menutup wajah. Kalau ia datang resmi, desa Maga dan seluruh kultus bakal gaduh.

Jadi, Ayah dan aku meninggalkan paviliun Heavenly Demon bersama. Itu kali pertama kami pergi ke desa Maga bersama.

 

Diskusi Bab (0)

Silakan Login untuk berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Pengaturan Baca

Tema Warna
Jenis Font
Poppins
Serif
Roboto
Mono
Arial
Tahoma
Ukuran Font 1.1rem
Jarak Baris 1.8
Spasi Paragraf 1.2em
Jarak Huruf 0px
Lebar Halaman Normal
Posisi Teks

Semua Bab