Login Diperlukan

Wajib Login!

Login dulu buat baca novel ini

Login

Chapter 82

Translator: Wang Lin

Proofreader: Wang Lin

Chapter 82 – Belenggu & Ketua Kultus

Saat aku tiba di kediaman Ketua Kultus Heavenly Wind, pertanyaan pertamanya adalah:

“Kalau aku bekerja sama denganmu, apa yang akan berubah?”

Pertanyaan lugasnya terasa lebih tulus daripada tergesa. Ia serius. Jelas bahwa Gowol nyaris meyakinkannya. Seharusnya aku bisa menjawab dengan penuh keyakinan, tapi aku memilih berkata jujur.

“Tidak ada yang berubah.”

“Tidak ada yang berubah?”

“Tentu, apa yang kira-kira akan berubah? Tanpa izin ayahku, bisakah kita membuka cabang baru Kultus Heavenly Wind? Apakah kita akan mengumumkan secara terbuka bahwa kita sudah bekerja sama? Ini cuma janji di antara kita.”

“Hanya itu saja?”

Ketua Kultus Heavenly Wind tampak bingung. Ia melirik Gowol. Apa maksudmu membawa orang ini ke sini? Matanya sepertinya bertanya begitu, namun Gowol diam menunggu ucapanku.

“Tapi ada satu hal. Kalau aku benar-benar percaya kau adalah orangku, ketika kau dalam bahaya, aku akan meninggalkan segalanya dan lari menyelamatkanmu.”

“Aku tak pernah berada dalam bahaya. Hidup seperti ini jarang sekali menghadapi bahaya, bukan?”

“Hidupmu terlalu mulus.”

Ketua Kultus Heavenly Wind menatap ke arah Gowol. Sebagian besar dari kehidupan mulus itu bisa terjadi karena Gowol.

“Di sisi lain, kalau kau bergabung denganku, kau akan menghadapi bahaya. ‘Apa? Tuan Muda Kedua dan Ketua Kultus Heavenly Wind bekerja sama? Kita harus menghancurkan Ketua Kultus Heavenly Wind lebih dulu!’ Tidak ada jaminan musuh seperti itu tidak akan muncul.”

“Terus ngapain juga aku bekerja sama denganmu kalau begitu?”

“Bergabung denganku bukan karena aku menginginkannya. Jujur saja, kau membuatku tidak nyaman.” 

“Jangan pakai kata-kata sulit. Bicara saja terus terang dan apa adanya.”

“Kau tahu ayahku tidak punya kesan yang baik padamu atau kultus kalian, bukan?”

“Tentu.”

“Meski begitu aku tetap berinteraksi denganmu. Sekarang bahkan Gowol jadi orangku. Kau kira ayahku tidak tahu?”

“Dia tahu. Dia pasti tahu.”

“Artinya aku memilih hubungan ini meski berlawanan dengan kehendak ayahku. Tentu, aku juga serakah akan relik suci…”

Aku merentangkan tangan kiri di depannya. Supreme Heavenly Silkworm Thread berkualitas tertinggi terbungkus di pergelangan tanganku.

“Tapi tidak peduli seberapa berharga relik itu, nilainya tak sebanding dengan melawan pendapat ayahku.”

Ketua Kultus Heavenly Wind tak sanggup membantah. Ia tahu betul saat aku menjadi Heavenly Demon kelak, aku bisa memiliki apa pun yang kumau.

“Terus untuk apa semua kegaduhan ini? Kenapa kau bolak-balik mencoba menggoyahkan hatiku dengan datang ke sini?”

“Aku sudah bilang tadi, ini bukan ideku. Ini idenya Gowol.”

Gowol melamun, mata setengah terpejam.

“Merekrut Ketua ke pihak kita sepenuhnya ide Penasehat Go. Jadi aku akan tanyakan pada Penasehat Go.”

Aku menatap Gowol serius.

“Kenapa aku harus menerima Ketua ke pihakku, meski berisiko berkonflik dengan ayahku?”

Ketua Kultus Heavenly Wind tampak bahkan lebih penasaran daripada aku menunggu jawabannya.

Akhirnya Gowol berbicara tenang.

“Sayangnya, keputusan ini bukan untuk kebaikanmu, Tuan Muda Kedua. Ini untuk mantan tuanku.”

Gowol menatap Ketua Kultus Heavenly Wind.

“Aku ingin memberimu hidup baru. Aku ingin memulai hidup baru bersamamu. Serahkan posisi Ketua pada penerusmu dan ikutlah denganku.”

“Meninggalkan posisi Ketua Kultus?”

“Iya. Aku tidak menginginkan Kultus Heavenly Wind. Aku menginginkanmu secara pribadi.”

Mata Ketua Kultus Heavenly Wind goyah.

Sebenarnya, ia bukan orang yang cocok memimpin organisasi. Keegoisan dan keserakahannya bukan tipe yang cocok untuk menipu orang-orang. Dia yang merupakan seorang Penguasa Outer World kini berdiri di garis yang rapuh. Di bawahnya banyak tombak dan pedang menjulang seperti pancang.

Namun orang yang dimaksud tak sadar betapa bahayanya posisinya.

Apa ia benar-benar akan meninggalkan jabatan Ketua dan ikut denganku karena hubungan dengan satu orang? Mungkinkah hubungan semacam itu benar-benar ada di dunia ini?

“Kalau aku pergi, kultus—”

“Akan berjalan lebih baik. Jangan khawatir dan ikutlah denganku.”

“Izinkan aku untuk memikirkan hal ini lebih lama!”

Saat itu, aku menyuruh bawahannya yang menunggu di luar untuk pergi ke Paviliun Nirvana dan membawa Seo Daeryong. Baik sang Ketua maupun Gowol tampak bingung melihat tindakanku.

Tak lama kemudian, tangan kananku datang cepat seperti angin.

“Kau memanggilku?”

Suasana tegang — ia dipanggil tiba-tiba ke kediaman sang Ketua. Aku melewatkan sapaan main-main dan bertanya serius.

“Di mana kau membuat keputusan yang mengubah hidupmu belakangan ini?”

Melihat suasana, Seo Daeryong juga menjawab jujur dan serius.

“Di sebuah kedai.”

“Berapa lama waktu yang kau perlukan untuk memutuskan itu?”

“Tak sampai sedetik.”

“Kau menyesal mengambil keputusan itu?”

“Tidak.”

“Bagaimana kalau kau tidak membuat keputusan itu di sana dan di saat itu juga?”

“Aku pasti tidak akan bisa melangkah hingga sejauh ini.”

“Ceritakan secara detail tentang momen tersebut.”

Seo Daeryong bukan orang yang suka sorotan. Namun begitu ia maju, ia pintar mengetahui apa yang perlu dikatakan.

“Menurut pengalamanku, keputusan yang mengubah hidup terjadi dalam sekejap. Entah itu meninggalkan rumah atau masuk Paviliun Nirvana, aku tak berpikir lama. Kalau aku memilih baju, mungkin akan kupikirkan selama berhari-hari, tapi dalam hal mengubah hidup itu terjadi cukup dalam sekejap. Kalau menunda, aku tak akan bisa memutuskan. Keesokan harinya, aku bangun sebagai orang berbeda.”

Aku menatap Ketua Kultus Heavenly Wind.

“Bagaimana pendapatmu?”

Sang Ketua menatapku bingung dan berkata,

“Kau sudah briefing duluan ya dengannya? Kalimatnya bagus sekali, pasti sudah latihan semalaman, ya?”

Seo Daeryong kemudian menambahkan dengan hati-hati satu hal terakhir.

“JIka boleh menambahkan satu dua kalimat pada Anda, ketua Kultus… Sejak aku bertemu Tuan Muda Kedua, pengalaman seperti ini sering muncul. Situasi yang terasa seperti sudah di-setting untuk mengejekku. Apa-apaan ini? Apalagi itu? ketika aku sadar, semuanya sudah berakhir. Mau aku pergi ke sini atau ke sana, atau hanya mengikuti perintah, masalahnya pada akhirnya beres begitu saja. Sama halnya sekarang. Bicara di depan Ketua begini? Kenapa aku harus melakukannya? Sampai sekarang, semua terasa telah diatur untuk mengejekku.”

Seo Daeryong menatapku dan menuduh,

“Bukankah begitu? Kau sengaja begini untuk mengejekku, kan? Meski aku kelihatannya begini, aku dulu juara pertama kandidat masuk Paviliun Nirvana. Aku cukup pintar!”

Aku menatapnya dan tersenyum cerah.

“Seperti yang kuduga, kau memang pantas menjadi tangan kananku! Aku suka semua perkataanmu dari awal hingga akhir. Melakukan sesuatu secara spontanitas adalah hal yang membuatmu menjadi tangan kananku. Itulah sebabnya kau adalah tangan kananku.”

Seo Daeryong juga tersenyum mengikuti.

“Dengan makin banyak orang yang ngincer posisi tangan kananmu belakangan ini, lega rasanya performaku tidak buruk. Karena tidak ada apa-apa lagi, aku pamit ya.”

“Tunggu sebentar. Ini mungkin akan menjadi sebuah momen bersejarah.”

“Ini bukan pertarungan serius, kan? Aku bahkan masih belum mahir dasar-dasar latihan bela diri.”

“Mungkin ada pertarungan serius yang berlangsung saat ini di kepala sang Ketua.”

Semua mata tertuju pada Ketua Kultus Heavenly Wind.

“Apa? Kau mau aku memutuskannya sekarang juga? Ini bukan posisi biasa, melainkan posisi ketua Kultus!”

Saat itu, Seo Daeryong ternganga kaget. Ia sudah menjelaskan penuh semangat, namun dia tak menyangka apa yang harus diputuskan oleh sang Ketua adalah hal semacam ini.

“Astaga! Kalau itu aku, aku pasti akan memikirkannya selama ratusan tahun baru memutuskan. Jangan putuskan sekarang!” 

Kata blak-blakunya justru memancing sang Ketua.

“Kau sungguh tak menyesali keputusanmu?”

“Kau pasti bakal menyesal, Ketua. Pulanglah saja dan pikirkan lagi setidaknya setahun! Setidaknya seratus hari.”

“Bocah brengsek! Jawab saja pertanyaanku.”

“Iya, aku tak menyesal. Bertemu Ketua Paviliun mungkin memperpendek umurkku, tapi aku sangat bahagia sekarang.”

Sang Ketua berdiri. Ia berkeliling pelan, menatap relik suci yang dipamerkan di ruangan.

Lalu, entah kenapa, ia memukul Thunder Bell.

DONG!

Suara dalam itu menyebar ke segala arah.

Saat suara mereda, ia memukul lagi. Dan lagi. Dan lagi.

Sambil mendengarkan bunyi lonceng, ia termenung. Apakah iblis yang terukir pada Thunder Bell memberi saran padanya?

Berapa kali lonceng itu berbunyi? Tiba-tiba sang Ketua menoleh padaku dan bertanya,

“Kalau aku setuju, apa kau akan memberi posisi tangan kanan padaku?”

Seo Daeryong terkejut menutup mulut. Bukan karena ia menyasar posisi tangan kananku, tetapi karena betapa mengejutkannya sang Ketua bersedia melepaskan posisinya.

Kepadanya yang rela melepaskan posisi Ketua, aku berkata,

“Tidak. Posisi tangan kananku sudah dipersiapkan untuk Penyelidik Seo yang berdiri di sini. Kau harus antre di belakang Jangho dan berjuang memperebutkan posisi tersebut.”

Seo Daeryong melebar matanya dan menggeleng panik.

***

Setelah Geom Mugeuk dan Seo Daeryong pergi, hanya tersisa sang Ketua dan Gowol di tempat.

Mereka duduk berdampingan di depan Thunder Bell.

“Apa kata iblis itu?”

“Dia bilang aku orang gila.”

“Aku juga sependapat. Jadi, kau sungguh akan ikut?”

“Bukankah justru kaulah orang yang paling gila di sini? Setelah berusaha membujukku begitu, kau malah bertanya begitu?”

“Aku tak menduga kau akan setuju. Aku tak pernah menyangka kau akan berkata tegas dan keren seperti ‘gaskeunnn skuy’ pada Tuan Muda Kedua.”

“Bsok pikiranku bisa berubah. Lusa bisa berubah. Tahun depan juga bisa berubah. Kau tahu aku lelaki yang tak punya ketegasan, kan? Karena sudah sampai sejauh ini, izinkan aku bertanya satu hal.”

“Silakan.”

“Kenapa kau mau aku mengikutimu? Apa itu hanya sekadar perasaan sentimental?”

Gowol menatap Thunder Bell lama lalu tiba-tiba berkata,

“Kurasa karena aku takut pergi sendirian.”

Sang Ketua benar-benar terkejut oleh jawaban tak terduga itu.

Gowol masih menatap Thunder Bell.

“Aku takut kalau pergi sendiri aku berbuat bodoh. Aku takut orang-orang di sana meremehkanku kalau aku pergi sendiri menemui Tuan Muda Kedua. Tapi kurasa aku akan merasa kuat kalau kau ada di sisiku. Bukankah aku selalu paling pintar saat bersamamu, Ketua?”

Gowol perlahan menatap Ketua Kultus Heavenly Wind.

“Aku sempit pikiran dan egois. Aku tipe orang yang membuatmu melepaskan posisi Ketua demi diriku.”

Untuk pertama kalinya sejak bertemu, Gowol membuka perasaannya padanya. Sang Ketua tak marah. Sebaliknya, dia justru tersungging senyum.

“Aku suka alasan itu dibanding alasan lain.”

“Kenapa?”

“Karena aku harus melindungimu, kan?”

Kali ini Gowol tertawa kecil.

“Kau bisa pikirkan lagi keputusan ini. Geom Mugeuk pasti bakal membawa badai kekacauan, dan kita tak tahu bagaimana hidup kita akan terhempas oleh badai tersebut. Mungkin kita akan berakhir dirantai dan bernostalgia tentang masa-masa kau sebagai Ketua, jualan jamu di pasar, kehilangan segalanya.”

“Bertahan hidup saja sudah cukup. Bukankah kau bilang kita akan jualan jamu bersama? Itu sudah cukup.”

Sang Ketua pun membuka perasaannya pada Gowol.

“Kau kira aku tak egois? Kau pikir aku akan pergi cuma karena disuruh? Aku sudah pikirkan dan hitung semuanya. Aku akan mendirikan Cabang Kultus baru dan bekerja memperluas induk ke Central Plains. Aku bukan sekadar mundur; aku pergi seolah mengorbankan demi tujuan besar cabang utama. Kalau berubah pikiran, aku bisa kembali. Berapa lama butuhnya untuk membangun kultus Heavenly Wind di Central Plains? Butuh waktu lama. Sementara Ketua Kultus selanjutnya bergelut dengan badai pasir di Wilderness yang kejam, aku akan nikmati semua kesenangan di Central Plains yang nyaman. Seru, menegangkan, bikin merinding.”

“Kau pikirkan semua itu dengan singkat? Ketua, kau pintar sekali.”

“Sejujurnya, aku bisa bilang kau juga egois.”

“Ketua.”

“Apa?”

“Mari kita lakukan yang terbaik.”

“Aku gugup.”

“Apa yang ditakutkan oleh orang sepertimu?”

Lalu sang Ketua melontarkan lelucon tak terduga.

“Aku khawatir aku tak akan bisa jadi tangan kanannya.”

“Apa?”

“Kau tahu aku gigih jika menginginkan sesuatu. Aku akan mendapatkan posisi itu bagaimanapun caranya.”

Melihat matanya, sepertinya itu bukan cuma bercanda.

Keduanya saling memandang dan tertawa lepas.

“Kau bilang kalau aku melepaskan posisi Ketua, aku akan jadi orang yang keren. Mari buktikan kalau kau benar. Ah, sekarang aku tak perlu lagi menatap Thunder Bell ini.”

Sang Ketua yang tadi mengelus lembut lonceng itu tiba-tiba berteriak.

“Diam kau, iblis!”

Mungkin iblis itu berkata sesuatu seperti: aku sangat menantikan duel tegang antara kau dan si Penyelidik Seo itu soal posisi tangan kanannya.

 

Diskusi Bab (0)

Silakan Login untuk berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Pengaturan Baca

Tema Warna
Jenis Font
Poppins
Serif
Roboto
Mono
Arial
Tahoma
Ukuran Font 1.1rem
Jarak Baris 1.8
Spasi Paragraf 1.2em
Jarak Huruf 0px
Lebar Halaman Normal
Posisi Teks

Semua Bab