Translator: Casper
Proofreader: Casper
Chapter 6 – Agflation (2)
Tim Sales 2 di perusahaan Dunsan-dong berada dalam krisis.
Sebuah kapal bermuatan kedelai terjebak di pelabuhan Quang Ngai, Vietnam, dan tidak bisa bergerak.
Manajer Park sudah menghabiskan satu bungkus rokok penuh.
“Bagaimana dengan Tim Sales 3?” tanyanya dengan kesal.
“Mereka bilang manajernya sedang perjalanan bisnis ke Inggris. Baru kembali empat hari lagi.”
“Sialan! Mereka yang bikin masalah ini dengan dumping harga, sekarang pura-pura bukan urusan mereka?”
Itulah sebabnya Tim Sales 2 selalu kebagian pekerjaan kasar.
Setiap kali Tim Sales 1 dan 3 sudah mengeruk keuntungan lalu kehilangan minat, sisa-sisanya akan mereka lempar ke Tim 2 seperti remah-remah.
Kedelai dari Vietnam adalah masalah jenis itu.
Lebih buruk lagi, pemberitahuan resmi dari Vietnam ditulis dalam bahasa Vietnam.
Tak seorang pun bisa membacanya dengan benar dan tak ada yang benar-benar tahu situasi lokal di sana.
“Ada yang bisa bahasa Vietnam di tim kita?”
“……Tidak. Bahkan tak ada yang benar-benar paham Asia Tenggara.”
Itulah masalah terbesar. Bukan sekadar sisa pekerjaan—mereka tak punya keahlian dan tak punya kemampuan bahasa.
Sudah waktunya “black knight” muncul.
Choi Inho mengangkat tangan.
“Saya bisa sedikit bahasa Vietnam!”
“……‘Sedikit’ tidak akan cukup,” kata Manajer Park dengan skeptis.
“Saya mungkin tidak paham dialek, tapi saya bisa menangani bahasa standarnya.”
Im Daeri menggeleng, mengernyit.
“Dengar, anak baru. Semangat itu bagus, tapi perdagangan tidak sesederhana itu. Kalau tidak paham situasi lokal, percuma saja. Kau tahu situasinya sedang genting sekarang—setidaknya diam saja, ya?”
“Ah…….”
Im Daeri biasanya hangat dan santai, tapi soal pekerjaan ia tegas dan punya harga diri tinggi.
Ia tak akan membiarkan seorang intern mengambil alih.
Jadi untuk sementara, Inho mundur.
Tim tenggelam dalam keheningan berat.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!