Login Diperlukan

Wajib Login!

Login dulu buat baca novel ini

Login

Chapter 54

Translator: Casper

Proofreader: Casper

Chapter 54

Ia sempat mengira pria itu adalah seorang master yang tangguh.

Namun tak disangka, hanya ada denyut yang sangat lemah, hampir tak terasa, yang merambat dari pergelangan tangan Bu Eunseol hingga ke ujung jarinya.

‘Sayang sekali. Auranya memang mengesankan.’ Mata Bu Eunseol tampak cekung dalam dan aura tenang menyelimuti seluruh dirinya.

Itu adalah sikap khas seorang ahli bela diri berpengalaman, tetapi jika diamati lebih saksama, tampaknya itu hanyalah hasil dari kepribadiannya yang pendiam.

‘Kuat atau tidaknya seni bela dirinya bukan urusanku. Yang penting aku bisa menipu beberapa minuman lalu kabur. Heh heh.’

Pada akhirnya, pemuda itu memang berniat memikat Bu Eunseol, minum gratis, lalu melarikan diri.

“Hahaha.” Saat keheningan canggung menyelimuti mereka, pemuda itu tertawa lepas.

“Sebenarnya, aku sudah terseret ke dunia ini sejak kecil. Gara-gara itu, aku sudah keluar-masuk neraka.”

Candanya tak mendapat respons.

Menggaruk kepalanya dengan kikuk, pemuda itu melanjutkan,

“Kau orangnya pendiam, ya? Apa aku membuatmu tak nyaman karena tiba-tiba bergabung?”

Bu Eunseol, yang sejak tadi mengamatinya dalam diam, menggeleng tanpa sepatah kata.

“Syukurlah,” kata pemuda itu sambil menepuk dadanya secara berlebihan.

“Aku sempat khawatir kau bakal menendangku keluar kapan saja. Haha!”

Tingkahnya nyaris kurang ajar, tapi anehnya tidak menjengkelkan.

Sejujurnya, Bu Eunseol tidak keberatan dengan pemuda yang kurang ajar itu. Selain karena ia adalah rekan sebaya pertama yang ditemui Bu Eunseol di dunia murim, pemuda itu juga memancarkan energi yang cerah dan jernih.

‘Apa karena aku memilih jalan kegelapan?’

Melihat pemuda itu, yang bersinar seperti cahaya matahari, membuat Bu Eunseol merasa seolah sekelilingnya sendiri diselimuti kegelapan.

‘Atau karena aku memilih balas dendam?’

Ia tak bisa memastikan alasannya. Merasakan dadanya sedikit sesak, Bu Eunseol kembali meraih cangkirnya.

Cara minumnya terbilang aneh.

Kebanyakan orang akan menenggak arak keras seperti arak kuning dalam sekali teguk, tetapi Bu Eunseol menyeruputnya perlahan, seolah menikmati teh, membiarkannya mengalir pelan di tenggorokannya.

“Kau…” kata pemuda itu, terpesona oleh cara minum Bu Eunseol.

“Pasti sudah melalui banyak hal.”

“…?”

“Kau minum arak keras seperti itu rasanya manis.”

Dengan ekspresi canggung, pemuda itu melanjutkan,

“Guruku pernah berkata, orang yang minum arak keras seolah itu manis berarti sudah mencicipi seluruh pahitnya hidup.”

Kata-katanya terdengar seperti omong kosong, tapi mengandung sedikit kecerdikan.

“Heh.” Bu Eunseol mengeluarkan senyum tipis, tanpa menyadarinya sendiri.

Senyum itu begitu bersih dan anggun, seperti bunga plum yang mekar di tengah salju musim dingin.

‘Senyum pria bisa seindah ini?’

Pemuda itu, terpikat oleh senyum Bu Eunseol, menggelengkan kepala untuk menyadarkan diri.

“Oh, benar, kita bahkan belum berkenalan. Aku—”

“Myeong Un, dasar bajingan!”

Suara gaduh menggema ketika 9 pendekar berjubah biru tua menyerbu naik ke lantai dua.

Diskusi Bab (0)

Silakan Login untuk berkomentar.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!

Pengaturan Baca

Tema Warna
Jenis Font
Poppins
Serif
Roboto
Mono
Arial
Tahoma
Ukuran Font 1.1rem
Jarak Baris 1.8
Spasi Paragraf 1.2em
Jarak Huruf 0px
Lebar Halaman Normal
Posisi Teks

Semua Bab