Translator: Casper
Proofreader: Casper
Chapter 164 – Mengayunkan Pedang
Saat gnoll itu menerjang dengan tombak kasarnya, pedang Enkrid membentuk sebuah busur, menebas batang tombak sekaligus dada makhluk itu dalam satu gerakan.
Krak! Dug!
Dua suara terdengar bersamaan ketika dada gnoll itu terbelah.
Darah kental berwarna gelap merembes keluar dari balik bulu kuningnya—ichor hitam pekat khas para monster.
Enkrid mengibaskan pedangnya, memercikkan darah itu ke kulit gnoll yang berbintik-bintik.
Makhluk yang terluka parah itu tergagap, busa hitam keluar dari mulutnya.
Snap!
Suara cambuk membelah udara.
Seekor monster hyena yang tengah menerkam seorang pekerja yang terjatuh, lehernya tersangkut di tengah lompatan.
Makhluk itu terseret ke udara dengan suara mendesing sebelum dihantamkan kembali ke tengah kawanan mereka.
Salah satu yang bernasib buruk terlempar ke atap rumah, menjerit nyaring, lalu terguling jatuh ke bawah.
“Lua itu nama yang dipakai para kekasih.”
Frog itu bereaksi terhadap nama tersebut, suaranya terdengar santai.
Kini ia sudah mengenakan baja pelindung dada—kapan ia memakainya?
Pandangannya sekilas menyapu mayat gnoll.
Ia tidak membidiknya, tetapi jantung gnoll itu terbelah.
Ia pun memalingkan wajahnya, sama sekali tidak peduli.
Pengalamannya sebagai Frog Warrior yang matang terlihat jelas, bahkan di situasi seperti ini.
Bagaimanapun, ia bukan Frog biasa—ia adalah mentor dari teknik swordsmanship Refined Sword Style, seorang Warripr dengan sejarah panjang.
“Hei, aku pergi dulu.”
“…Ke mana?”
Bahkan bagi dirinya, pergi di tengah pertempuran seperti ini terasa absurd.
Dan begitu tiba-tiba.
“Cultist.”
Cultist?
Enkrid bahkan tak sempat bertanya lebih lanjut.
Grrrum.
Pipi Luagarne mengembung—ekspresi fisik dari emosi; amarah, penyesalan, atau sesuatu yang serupa.
Namun Enkrid tak mungkin tahu.
Luagarne langsung melesat.
Dengan hentakan kuat, ia menghilang ke depan, tanah di tempat ia berdiri menyembur seperti air mancur.
Tubuhnya meninggalkan bayangan sisa saat melaju.
Beberapa monster hyena mencoba menghalangi jalannya, namun itu sia-sia.
Luagarne berubah menjadi garis hijau.
Boom!
Monster-monster hyena di ujung lintasannya terpental ke segala arah.
Melihat mereka terlempar membuat situasi ini terasa tidak nyata.
Itu adalah bentuk kekuatan murni—sesuatu yang hanya bisa dilakukan Frog Warrior sepertinya, yang mampu mengabaikan luka-luka ringan.
Enkrid memusatkan pandangannya ke arah tujuan Luagarne.
Ada sesuatu di sana.
Tidak—seseorang yang familiar.
Sosok yang ia lihat selama tiga hari terakhir.
Seseorang yang selalu menempel di dekat—kapten itu, Deutsch.
Clang!
Di depan seorang pekerja yang terjatuh, Esther berdiri dengan cakar terangkat.
Enkrid segera menarik fokusnya kembali ke pertempurannya sendiri.
Gnoll dan monster hyena telah mengepung.
Tak ada waktu untuk memperhatikan dari kejauhan, apalagi menanyakan tentang cultist.
“Apa-apaan ini?”
Di belakangnya, Krais bergumam.
Tak ada waktu untuk menjawab.
Gnoll sudah menerjang.
“Hah…”
Menghembuskan napas, Enkrid menancapkan kaki kirinya ke tanah, memutar pergelangan kaki, lutut, dan pinggang secara bersamaan saat ia mengayunkan pedangnya.
Satu tebasan berputar Refined Sword Style menghantam gnoll yang datang.
Dug!
Pedang itu membelah tubuhnya, memutusnya menjadi dua.
Darah hitam dan isi perut berceceran ke tanah.
Mayat yang terbelah itu terlempar, menghentikan laju gnoll lain sesaat—hanya sesaat.
Salah satu dari mereka melompati mayat itu sambil mengayunkan palu perang.
Yang lain menyusul, lidah menjulur, air liur berhamburan.
Enkrid tidak mengenakan zirah—hanya pedang.
Situasinya genting.
“Mereka nggak ada habisnya!”
teriak Krais.
Enkrid menghembuskan napas tajam dan kembali mengangkat pedangnya.
Tak ada waktu untuk kata-kata.
Kekacauan telah dimulai.
***
Ada hal-hal di dunia ini yang tidak bisa ditinggalkan.
Hal-hal yang tidak bisa diabaikan.
Dan hal-hal yang tidak akan pernah bisa dimaafkan.
Bagi Luagarne, cultist adalah salah satunya.
Sekelompok fanatik gila yang percaya dewa mereka bersemayam di alam Demonic Realms.
Musuh yang tak pernah bisa ia biarkan hidup.
Begitu ia melihat satu saja, Luagarne kehilangan kendali.
Ia memang Warrior berpengalaman—seseorang yang mengucapkan kata heart dengan makna mendalam.
Namun ia juga seekor Frog.
Spesies yang bertindak berdasarkan dorongan primal yang mendidih di dada mereka.
Dan para cultist telah merenggut kekasih keduanya.
Hari itu, ia bersumpah atas hatinya—bersumpah untuk membunuh setiap cultist yang pernah ia lihat.
Ini lebih penting daripada segalanya.
Satu-satunya pikirannya adalah membunuh lalu kembali.
Namun gerakannya terhambat.
Anak cultist itu lebih licik dari yang ia duga.
“Dasar Frog jalang sialan.”
Cultist itu mencibir, bibirnya membentuk senyum tajam.
Baginya, pemandangan ini pasti terlihat seperti ia berhasil menjebak Frog itu.
Tak masalah.
Ini saatnya menghancurkan arogansi mereka.
Meski itu berarti ia tak bisa segera kembali ke sisi Enkrid…
Jangan mati, Enkrid.
Itu saja harapannya.
***
Begitu Luagarne pergi, monster-monster itu menyerbu seperti banjir setelah bendungan jebol.
Enkrid maju untuk membeli waktu, tapi itu sia-sia.
Jumlah mereka terlalu banyak.
“Guhhh!”
Dengan jeritan aneh, sebuah palu perang pendek menghantam ke arah kepalanya.
Senjata dengan ujung paku besi.
Jika terkena, dampaknya bukan sekadar rasa sakit.
Enkrid mundur selangkah dan mengayunkan pedangnya dari bawah ke atas.
Tebasan vertikal terbalik.
Dug!
Ia membelah rahang dan setengah tengkorak lawannya secara vertikal.
Lalu ia menggunakan gagang pedangnya sebagai senjata tumpul, menghantam kepala monster hyena yang menyerbu dari kiri.
Thwack!
Monster itu jatuh ke tanah dengan suara berat.
Sensasi di tangannya seperti memecahkan kenari—tengkoraknya pasti hancur.
Tak ada waktu untuk memastikan.
Serangan datang dari kanan.
Tiga bilah berkilat.
Gnoll-gnoll ini… koordinasi mereka luar biasa.
Enkrid mengayunkan pedangnya tiga kali beruntun, mengandalkan insting.
Jika tak bisa menahan, ia akan menepis.
Dua serangan terpental.
Clang!
Namun yang ketiga tak memberi celah.
Ia memutar tubuh untuk menghindar—
—namun ujung tombak tiba-tiba menusuk ke arah perutnya.
Enkrid segera menghantam bagian tengah batang tombak itu.
Thwack.
Serangan ke perutnya tertahan—
Dug!
—namun pada saat yang sama, sebuah palu menghantam bahunya.
Musuh lain.
Tak mungkin menahannya.
Bahkan dengan indranya yang tajam, mustahil mendeteksi semua serangan dalam kekacauan ini.
Serangan itu datang dari titik butanya.
Berhenti berarti mati.
Instingnya meraung.
Enkrid membiarkan dirinya jatuh ke belakang, menggeser berat badan seolah ambruk.
Lalu ia membalik genggaman pedangnya dan menghantam gagangnya ke bahu kiri.
Dug!
Benturan berat.
Musuh di belakangnya mengerang kesakitan.
Memanfaatkan momentum jatuh, Enkrid langsung bangkit dan mengayunkan pedangnya ke kanan.
Seekor monster hyena menerjang.
Yang pertama mengincar tenggorokannya.
Yang berikutnya terus mengejar.
Kali ini, mereka menargetkan pergelangan tangannya.
Saat Enkrid membelah tengkorak makhluk itu, jantungnya berdegup kencang oleh bahaya di sekelilingnya.
Ketenangan.
Keberanian.
Heart of the Beast menambatkan pikirannya.
Saat kesadarannya pulih sepenuhnya, insting mengelaknya melampaui lima indera—menuju indera keenam.
Waktu melambat.
Tombak, gladius, kapak perang, palu.
Garis tipis menghubungkan semuanya—
Garis antara hidup dan mati.
Enkrid mengikuti garis itu dengan pedangnya.
Dug! Tebas! Krak! Dug!
Empat tebasan mematikan.
Empat mati seketika.
Tanah terendam darah hitam.
Namun mereka terus datang.
Tanpa henti.
“Aku hanya bisa… terus mengayunkan pedang.”
Dan Enkrid pun melakukannya.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama!